Seseorang pernah bertanya, "apa aku pernah patah hati yang begitu hebat?"
Kalau dipikir-pikir hampir semua yang aku tulis semuanya tentang patah. Entah aku memang patah, atau sengaja saja mematahkan diriku, seola betapa kamu tidak baik-baik saja setelah hilang, dan itu menyenangkan untuk dibagi. Namun entah mengapa, aku tidak tahu patah mana yang paling hebat.
Patah hati menjadi hebat dan terhebat ketika itu sedang berlangsung. Ingin menyerah, putus asa, tidak percaya diri, bahkan mengutuk larik-larik takdir yang katanya aku iyakan sendiri dulu untuk tetap berada di bumi.
Patah hati menjadi guru paling ampuh sekaligus kejam. Tapi aku percaya, kita menjadi tumbuh yang begitu lebat akan banyak dewasa, banyak sabar, banyak menerima, banyak menyiapkan obat untuk patah-patah selanjutnya.
Di akhir ini, meski patah kita serupa tulang yang tetap tumbuh dan tak sempurna. Meski patah kita seeu cangkang kura-kura yang dipenuhi lumut-lumut, atau patah kita tidak seperti kayu yang menumbuhkan tunas-tunas baru. Kita hebat, kita hebat dengan terus bisa menghadapi banyak patah. Kita hebat bisa menjadi baik-baik saja. Kita hebat bisa meyaksikan waktu berjalan maju. Menyaksikan gedung-gedung tumbuh tinggi, batu-batu berpindah dari kali menuju menara.
Kita hebat sebab telah menjadi manusia. Selamat patah, dan tumbuh kembali. Percayalah semua manusia ada di pihakmu dengan rasa serupa.
[14; semoga tidak merasa sendiri. Senang ada teman patah, seperti senang akan dihukum bersama sebab tidak mengerjakan pr itu ada baiknya juga]