Sabtu, 26 November 2022

Ini Aku dengan segala Tiket Menujumu


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan

Ini Aku dengan segala Tiket Menujumu 

Hai, selamat pagi. Aku kembali, pulang dari perjalanan panjang yang tidak ada apa-apanya untuk diceritakan. Aku hanya berjalan tanpa berniat pulang, rumah yang tak pernah benar-benar jadi rumah. Jadi, bagimana kabarmu setelahku, pasti baik-baik saja, sebab bersama sebelumnya membuat kita saling meluka. Beradu siapa yang lebih bisa mencekik siapa. 

Perjalananku kemarin bentuk dari pemberhentianku untuk tidak serakah. Serakah pada baikmu yang hanya untukku, serakah pada tawamu yang hanya ingin aku penyebabnya, serakah pada apa-apa yang menyangkut kamu hanya aku empunya. Maaf, tulisan ini akan panjang sekali, aku harap matamu tidak kesakitan sebab aksara-aksara baru saja berdatangan.

Sebenarnya aku sudah sangat lama ingin menyapa, tapi ternyata butuh waktu yang tidak sedikit untuk merapikan diri sendiri agar bisa tampil sebaik mungkin tanpa retak sana sini seperti pigura. Hasil dari berlainan arah kita dalam melangkah. Lama aku membalut pecah belah sebab amarah yang tumpah ruah. Memberi pengertian pada hati bahwa banyak perasaan sama yang tidak bisa jadi sepasang. 

Baik? Tidak terluka kan? Aku masih kalah, aku masih kalah atas hatiku yang menujumu meski tersesat. Aku kalah, dari segala upaya yang seharusnya bisa membuat kita lebih dewasa. Aku juga kalah untuk tidak kembali pada titik ini mengirimu pesan-pesan yang kemungkinannya tidak kamu baca.

Seperti kata Aan Mansyur pada bukunya yang tidak ada new york hari ini "jika ada seseorang yang sudah terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan." Mungkin dia benar, setelahmu kepalaku memproduksi banyak mungkin serta andai, dan mereka yang datang setelah itu hanya memasuki kabut asap dari pemanggangan ingatanku perihal kita.

Bandara dan udara
kereta dan harap-harap kita 
stasiun serta lambaian.
Semuanya memiliki tiket menujumu, tapi bukan benar kamu. Hanya hal-hal di kepalaku yang dibekukan waktu.

Jadi, ini aku.
pelik yang ingin dipeluk
rumit yang tak bisa benar-benar pamit.

[Ini masih pagi, bukan?]
__________________๐Ÿ•Š️
#GadisAkasara_☕

Kupang, 26 November 2022

Kamis, 24 November 2022

Purgatori


Purgatori 

Semula aku bencana yang Bapa limpahkan, agar tak hanya iblis berperan. 

Tapi dalam kredo malam-malamku, kelak aku mesias kala hakim-hakim bias lewat sakramen, dipinta loloskan umat dari apokrif, dari apokalips
"Jadilah terang" di sela mazmur kudengar: penebusan telah tuntas. 

Maka Bapa, jemput aku dari Via Dolorosa 
Bebaskan aku dari kalvari, janji takkan lari lagi

//Pria Kuno dalam Sajak๐Ÿ‚
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia; Could a sinner be forgiven?:]

Nb; hanya tulisan lama:)

Rabu, 23 November 2022

Belajar Memahami Diri


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Belajar Memahami Diri 

Sudah sejak lama aku berhenti mengasihani diriku, berhenti untuk merasa bahwa akulah yang paling luka di Bumi. Jika apa-apa yang kau temui di lini masa ini banyak menggunakan kata aku, sungguh itu bukan kisahku. Aku hanya senang saja memikirkan hal-hal hitam yang terjadi, menggelisahi hal-hal sederhana kemudian menderetnya dalam kata.

Sudah sejak lama aku tak lagi mengutuk takdir, tak berseteru pada hal yang harusnya memang terjadi, tak menolak garis Semesta atas jalur yang melewati rotasi perputaran waktuku.

Aku memutuskan untuk tidak apa-apa untuk segala apa-apa. Aku memutuskan tertawa pada apa yang aku suka, menangis pada yang mendera dada hingga sesak.
Aku memutuskan jujur kepada diriku, setidaknya perihal yang kurasa. Sebab sering kali yang membuat detak tak beraturan adalah penyangkalan, bahwa kita baik-baik saja padahal tidak.

Aku memutuskan untuk menerima, memilih 'yasudahlah' atau 'legowo' pada yang memang seharusnya aku sesap. Aku memilih menjadi umat, bersimpuh jika luruh, menadah jika serasa nyata mulai tak ramah, dan berterimakasih pada binar-binar rasa. Sebab sekarang paham bahwa yang pergi memang sudah waktunya, sedang yang datang akan ada waktunya.

[Yaa, sedewasa inikah sekarang?]

๐Ÿ•Š️• • • 
#GadisAksara_☕

Sudah Berdamaikah dengan Isi Kepala


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Sudah Berdamaikah dengan Isi Kepala

Di penghujung hari, saat matahari mulai tenggelam, hujan tiba-tiba turun deras, orang-orang segera berlari mencari tempat berteduh. Sedangkan dua anak manusia itu hanya terdiam, duduk menikmati aroma tanah yang baru diguyur hujan. 

Setelah beberapa lama sibuk dengan isi kepala masing-masing, salah satunya berujar pelan, "Setiap orang pasti mengalami masa remaja yang menyulitkan. Tapi di sini, kenapa saya selalu merasa bahwa saya satu-satunya remaja yang tak lagi punya harapan?"

Yang lelaki hanya terdiam, bingung mau menjawab apa. Benar memang, bahwa hidup semakin menyebalkan saja, semakin banyak persoalan untuk anak usia remaja seperti mereka. Ini membuatnya teringat pada sebuah lagu yang sering ia putar di sudut kamar dengan volume penuh—hidup berjalan seperti bajingan. Ah, benar-benar menyebalkan.

"Jangan benci diri sendiri—"

"Semua orang benci saya," potong gadis itu cepat, ia tahu apa yang akan dibicarakan lelaki di sebelahnya ini. Sebetulnya, ia muak.

"Tahu dari mana kamu? Dari isi kepala kamu yang menyebalkan itu? Dari pikiran kamu yang berlebihan itu? Jawab saya, dari mana kamu dapat pernyataan kalau semua orang benci sama kamu, sementara kamu tidak tahu isi hati mereka?" Jika sebelumnya anak lelaki berkaus hitam ini hanya terdiam, kini ia mulai melontarkan banyak pertanyaan sebab sedikit tak senang ucapannya dipotong. Sedang yang ditanya hanya terdiam, tidak tahu mau menjawab apa jika dicecar begini.

"Satu hal yang perlu kamu tahu bahwa ... ini semua hanyalah permulaan, bagian yang kamu pikir sebagai remaja adalah masalah paling besar, nyatanya di depan sana masih ada masalah yang lebih besar dari yang kamu duga. Buat apa? Karena kita beranjak dewasa, diburu waktu. Jadi kamu harus membiasakan diri. Terdengar melelahkan memang, tapi tanpa kamu sadar, kamu sudah banyak melewati masalah-masalah yang kamu pikir bahwa kamu tidak bisa, ternyata kamu bisa sekuat ini. Jadi, bertahan."

Gadis itu terdiam lama, benar katanya—ini semua hanyalah permulaan.

๐Ÿ•Š️• • • 
#GadisAksara_☕

Sumber gambar: Pinterest

Anggap Saja Kunamai Kau Busuk


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Anggap Saja Kunamai Kau Busuk

Jangan jatuh cinta kepadaku. Aku hanya sekumpulan omong kosong para pemuda mabuk di gang sempit pada pukul 12 malam: Jujur yang simpang siur. Berhasrat namun hanya sampai pada tenggorokan. Bergegas tak sanggup, bergerak henti bahkan sebelum mengenakan sendal.

Jangan menjadi teman baikku. Aku hanya tumpukan sampah yang mencari tanah kosong untuk memuntahkannya. Selesai itu tak ada apapun dalam kandunganku termasuk pengetahuan agar kau terhibur ketika memulai perbincangan denganku. Aku adalah sendu dan angin ribut sebelum badai. Kau akan muak bahkan membenciku. Akan ada penyesalan yang teramat pada dadamu. Jadi lekas pulanglah, tak ada apapun disini.

Jangan berusaha mencari perhatian atau mengambil keuntungan dariku. Aku ini empedu diisi perutmu. Kau bisa kubuat keracunan: sebab pandanganku selalu keruh pada semua orang. Aku tak pernah percaya, ada manusia sesempurna Tuhan  semulia Bunda Maria isi hatinya. Jadi anggap saja kunamai kau busuk. Hentikan disana, aku tak akan ada di jajaran standar hal-hal yang jadi seleramu. Ikhlasku tak banyak. Bahkan anggap saja, aku menyimpang seribu dendam dan rasa tak rela pada engkau yang sedang membaca ini dengan perasaan takjub. Matamu menelisik sampai pada kalimat ini, sementara aku tengah membawa pisau untuk menusuk jantungmu, agar kau tewas. Bersyukurlah, kau dilindungi sekat gawaimu.

Jangan berusaha mencari wajah dengan menunjukkan kepintaranmu. Aku adalah kertas ulangan remedial matematika seorang siswa yang selalu duduk di pojok belakang kelas dengan latar belakang buruk. Aku tak peduli seberapa bagus valuemu, atau entah itu sunggu value milikmu atau kau manipulatif saja. Aku tak peduli. Hidupku hanya seputar diriku. Kau tak akan pernah benar-benar masuk apalagi menjadi bagian dari itu.

Sekali lagi, jangan berusaha melewati batas-batasmu. Tak peduli siapa engkau. Jangan pernah merusak rumahku. Jangan pernah berusaha menghancurkan aku.

Ingat,
Aku sudah hancur lebih dulu.
Aku sudah porak poranda.

[Pergilah! Aku bahkan tak Sudi melihat bayanganmu.]

๐Ÿ•Š️• • • 
#GadisAksara_☕

Jumat, 11 November 2022

Tidak Lebih Menarik

|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Tidak Lebih Menarik 

Barangkali kau sudah tau, bahwa aku tidak lebih menarik dari perempuan-perempuan acak yang kau temui di jalan, yang bagaimana bentuk rupa pula lakunya anggun rupawan.

Aku tidak lebih cantik dari perempuan-perempuan yang lewat di beranda media sosialmu. Yang kau ikuti sebab parasnya begitu kau damba, menyegarkan mata dan terlihat begitu sempurna.

Aku hanya bagian rumpang yang berusaha keras melengkapi segala bentuk kekurangan. Tak lebih dari omong kosong tanpa makna. Jadi, maaf karena tidak sesempurna perempuan-perempuan yang kau damba, tuan. Namun, aku bisa menjadi rumah di kala kau butuh tempat pulang. Aku bisa menjadi jawab dari setiap kekhawatiran.

[Sekali lagi, maafkan aku karena tak sesempurna mereka, tuan.____Feiy Seran:]

๐Ÿ•Š️• • •
#GadisAksara_☕

Rabu, 09 November 2022

Menelusuri Diri


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Menelusuri Diri

Hidupnya berjalan begitu biasa—tak istimewa. Selalu digambarkan sempurna, justru kebalikannya. Mengisi dengan cerita yang paling berwarna. Paling menyenangkan. Paling penuh tawa. 

Terlahir jadi pemeran menyesatkan di kehidupannya sendiri. Karakter serupa potret sebagian besar manusia di dunia nyata, manusia amnesia yang terlampau amatir, yang sering kalah dan mengalah.

Rayap-rayap patah hati kini lebih dari sebuah cerita tak bermakna yang mengendap di kepala, tentang hal-hal yang kini tak berguna apa-apa. 

Berkali-kali pergi. Berpuluh-puluh gagal. Tak ingin menjadi pihak yang mengecewakan. Ingin sendiri saja untuk waktu yang lama. Ingin mengubur diri dari riuhnya isi semesta. Bukan tanpa sebab ataupun sengaja. Benar adanya. 

Bersikeras menjauhi pijak, menghapus segala jejak. Sejak detik itu, rasanya lebih suka tertimpa hujan daripada harus meneduh pada ramah kebohongan yang berpemilik.

Tulisan ini terlahir dengan sudut pandang berbeda. Selayaknya rahim, tulisan ini dilahirkan dari gabungan puluhan diksi-diksi istimewa. Tulisan ini terlahir dari sembilan belas tahun lebih. Menepi dan menjelma mengagumkan. Berdiri sendiri tanpa basa-basi dalam wujud lain dari takdir.

[Kutulis ini untuk diriku sendiri dan teruntuk teman saya Fenesia Tokael๐ŸŒท]

๐Ÿ•Š️• • •
#GadisAksara_☕

Kupang, 09 November 2022