Sabtu, 27 April 2024

Tentangmu dan Semesta yang Kau Sukai itu


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan; ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ž๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ถ ๐—œ๐˜๐˜‚

Sa, hari ini Sabtu. Waktu di mana rindu dipaksa libur dulu hingga Minggu. Padahal sendi-sendinya mulai mengerut sebab begitu menggebu. Ia menuntut temu dari pemiliknya. Barangkali akan ada satu hari berangin untuk bersua.

Sa, kau suka langit, bukan? Kalau senggang, akan kugandeng tanganmu ke sana. Menikmati hamparan biru nan luas tanpa penghalang. Langit itu yang nantinya menghalau kalang kabut serta rumitnya rindu kita.

Sa, kutahu juga kau amat suka pada air. Kita bisa ke mana saja yang kamu ingin. Pantai yang berombak? Kolam yang hangat? Laut tanpa batas? Atau, danau yang sejuk dan tenang? Pilih saja, mari kita sambangi semuanya. Terlebih, akan kuajarkan pada mereka bagaimana caranya menjadi jernih yang sempurna—seperti matamu yang telaga.

Sa, selamanya hanya ada kita berdua. Entah ke Selatan atau Utara. Aku akan membiarkanmu menikmati alam dengan tenang. Kubiarkan kau ikut hanyut bersama lirik-lirik lagu kesukaanmu. Lalu, lewat sajian semesta yang kau sukai itu, aku hanya cukup diam dan menatap; menyayangi dan membersamaimu tanpa ada kata ragu-ragu.

—gn<3va: Sara—Sagara

• • •
#GadisAksara_☕

April, hari kedua puluh tujuh


Pict: Pinterest 

Senin, 15 April 2024

BERTARUH


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan; Bertaruh

Ku lihat, kau mencintaiku dengan peringatan. Aku seperti paket dengan tindakan pencegahan. Film yang buruk dengan penafian di awal. Peringatan untuk kemungkinan toksisitas. Audible kutu dari bom yang tertunda. Aku tau aku tak akan pernah menjadi yang terbaik jika aku jadi kamu, aku bahkan tak akan mencintaiku.

Sementara kamu mengenakan bendera merah dan lonceng peringatan, bukan karena kamu ada sesuatu, tetapi karena kamu adalah segalanya yang tidak pantas aku dapatkan. Kamu adalah seseorang yang bisa membuatku terbang dari tebing. Kata-katamu terlalu klise sebagai lagu nina bobo yang bisa menenangkan atau menggetarkan hatiku yang lelah. Tindakanmu, terlalu baik untuk menjadi kenyataan setelah masa lalu yang sepi. Kau mencintaiku dengan cinta yang tak bisa kukenali karena aku tak pernah merasakan yang seperti ini. Aku tidak siap untuk menetap, tetapi kamu layak untuk setiap ′′ yang aku lakukan ′′ di seribu katedral.

Sayang, mencintaimu seperti berdiri di atas langkanya menunggu musim gugurku yang hebat. Menyerah pada kehancuran yang diharapkan. Angin menghembuskan kekhawatiranku, kepedihanku, dan ketakutanku. Memasang tirai siap di atas kepalaku untuk satu kali ini, akhir waktu besar. Tangan terbuka lebar; merangkul kenyataan bahwa aku di sini-tinggal; bertaruh sepotong terakhir hatiku yang patah hati untuk kesempatan tak pernah berakhir hari bersamamu.

Atau seribu puisi setelah kamu.

• • •
//Pria Kuno dalam Sajak ๐Ÿ‚
#GadisAksara_☕

April, hari ke lima belas 2024

Rabu, 10 April 2024

Delusi


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan 

Aku menatap langit malam yang hitam, ada rembulan yang samar ditutup mega mendung yang sepertinya akan segera hujan. Ada lolongan panjang dari anjing kesepian, hembus angin mendayu-dayu menerbangkan rambut tergerai ku.

Kupeluk erat lutut lutut ku yang mulai kedinginan, angin menyibak daster pendek hingga terbuka sampai terlihat separuh paha aku membiarkannya mempersilahkan enam pasang mata menatapnya.

Salah satu dari mereka bertanya, kenapa mataku sembab dan kakiku penuh lebam biru keunguan.
Aku tersenyum semua lebam ini kudapat tanpa sadar semua perih ditangan dan punggung juga aku tidak tau kapan dan kenapa itu terluka, air menyadarkan ku bahwa ada bagian terbuka ditubuhku itu saja yang kutau.

Salah satunya lagi meraba kakiku, aku masih diam hujan mulai datang rintiknya membasahi ku tapi tidak dengan mereka. Yang paling muda berlari kearah tengah halaman lalu menari-nari kegirangan.

Yang satunya lagi duduk disampingku memintaku masuk karna hujan sudah hampir membasahi seluruh bajuku, aku menatap matanya yang kosong melompong lalu bersandar dipundaknya yang dingin.
Dan mulai menangis, terisak sampai sesunggukan.

Yang paling tinggi dari mereka menatapku iba, tapi aku justru kesal oleh tatapannya bagaimana tidak bahkan mahluk seperti mereka saja mengasihani hidupku. 

Yang terakhir adalah yang paling berbentuk utuh dari semuanya, dengan baju hitam putih dan tidak beralas kaki, melempariku dengan krikil dia marah karna sudah sepuluh hari tidak kuberi darah. kusodorkan tanganku sembari berkata gigitlah jangan terlalu banyak karna aku darah rendah.

—Delusi,

๐Ÿ“ท; Pinterest 
• • • 
#GadisAksara_☕ 

April, hari kesepuluh 2024