Kamis, 02 Januari 2025

Kepalaku tempat sampah Berhantu


|•🦋•| Catatan Perempuan; Kepalaku Tempat Sampah Berhantu

Aku kehilangan tubuhku setiap malam.

Seolah sekumpulan iblis bersemayam di dalam kamarku, mencurinya, lalu melompat ke dalam mimpi-mimpi—mimpiku sendiri.

Ah, ingatan itu lagi. Bedanya, aku penonton sekarang. Di sudut gelap sebelah kanan pintu, seraya menyaksikan diriku sendiri yang berusaha meyakinkan diri. Ternyata aku yang sekarang sama gemetarnya dengan aku waktu itu.

Rupanya, aku juga terisak waktu itu. Hanya saja, tangis kutahan agar satu kalimat itu keluar dengan lancar, meski rasa takut menjadikan batang tenggorokanku habis terbakar.

Ingatan itu berubah menjadi serpih-serpih yang memenuhi kamar, hingga akhirnya habis. Aku lupa ke mana diriku di saat itu. Kepalaku berhenti menyimpannya, hanya sampai aku memilih tidur.

•••

Pada beberapa waktu, aku menjalani kehidupan yang normal. Lebih tepatnya, berusaha tampak normal. Aku bertemu dengan orang-orang yang hanya melihat apa yang sedang mereka lihat. Sementara aku, sekadar cangkang kosong yang digenggam erat. Tak akan terlepas seberapa bebal pun aku meronta.

Di antara itu, kepalakulah andil terbesar.

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menewaskannya di sana, sambil berpikir, mungkin aku dan bahkan semuanya akan kembali baik-baik saja. Jadi, aku menusuknya berkali-kali, sampai matanya menutup, sampai embusan napasnya yang memuakkan sirna. Namun sayangnya, tidak peduli berapa kali pun kubunuh di dalam sana, itu terus muncul dan muncul sekalipun belum saatnya purnama tiba.

Setelahnya aku sadar, ternyata aku hanya membunuhnya di kepala. Mungkin itulah sebabnya kepalaku penuh tengkorak dan tulang-tulang, darah kering dan bau amis, juga arwah dari tayangan berulang-ulang sampai jati diriku tersesat selamanya.

Apa itu justru akan berubah kalau aku yang menghilang?

Sampai aku mempertanyakan Tuhan, betapa beratkah dosaku pada-Nya sampai ditempatkan di neraka ini pula?

Aku bahkan tidak menyangka akan keberuntungan yang membawaku pada kebetulan masih hidup sekarang. Haha, masih ada waras yang diwariskan sedikit.

Ah, aku merindukan diriku. Belakangan ini, aku jadi lebih sering merindukan diriku.

•••

Aku tersentak. Penuh peluh. Rupanya aku masih kehilangan tubuhku setiap malam. Para iblis semakin rajin mengintai dan mencurinya.

Aku beringsut duduk di sudut kasur. Masih pukul tiga pagi, tetapi tenggorokanku berat sekali. Perlahan, aku menyibak aura-aura malam yang menggelitik di sekitarku dan membuka pintu kamar hingga berderit samar di kesunyian.

Setidaknya, rumah lengang di waktu-waktu seperti ini. Aku rindu bernapas bebas. Namun, rupanya kelegaanku hanya sebatas bentuk olok-olokan hantu di cerita-cerita horor komedi, yang kemudian dilakukan pula oleh sebangsanya yang mendiami kamar dan mimpi-mimpiku. 

Kali ini jiwaku. Dalam gemetar terhebat, aku tidak mengenali yang fana dan yang nyata, tidak pula mimpi maupun dunia. Semuanya bercampur aduk. Semuanya gelap.

Lalu, tiba-tiba terang sekali. Aku berdiri di sudut ruangan dengan aku yang lain memeluk diriku, menangis lebih keras, memohon lebih iba.

“tolong, selamatkan aku.”

Aneh, dialognya berubah. Hanya saja, aku masih sama meraungnya. Sakitnya saja yang semakin lama semakin perih, seperti luka bakar yang tidak berhenti menjalar hingga tubuhku penuh, lalu kulitku terkelupas habis seolah tidak pernah ada sebelumnya. Menyisakan daging pucat dan warna merah darah di beberapa bagian.

Lalu, bayang diriku yang lain menghilang. Tersisa diriku sendiri di ruangan serba putih yang kosong dan hampa. Aku masih berdiri diam di sudut ketika aku-aku yang lain mulai berdatangan. Ah, aku mengerti. Rupanya itu tubuhku yang selama ini dicuri iblis. Berbeda. Ada banyak sekali.

Keremangan mengambil peran. Bau busuk menyebar cepat. Alih-alih menutup hidung, aku menikmatinya. Rupanya kepalaku masih sama saja kotornya seperti yang kuingat terakhir kali. Bedanya, massa tengkorak dan tulang-tulang sepertinya meningkat pesat. Aku berpikir, itulah cara untuk hidup normal lebih lama. Memang, aku tidak ada bedanya dengan iblis dan hantu-hantu. 

Sekejap gelap lagi, seolah ada saklar yang dikendalikan di sini, sama halnya gelaran pertunjukan di panggung-panggung opera. Memperkirakan itu, aku ingin tertawa—menertawai diri sendiri. Tawa terlupa dan tidak ingat kapan pernah jadi milikku pribadi. 

Kemudian ruangan berganti memerah. Seperti hujan yang merembes masuk dari berbagai arah gubuk tua. Lewat dinding, lewat genteng, bahkan lewat lantai-lantai tanahnya. Darah.

Aku ketakutan setengah mati. Namun, aku tidak menyelamatkan 'aku' yang itu. Lagipula, 'aku' hanya memerlukan diriku yang lain. 

“tolong, selamatkan aku.”

Sampai darah yang serupa air bah itu mencapai sebatas dada.

“tolong, selamatkan aku.”

Sampai napasku mulai tersendat-sendat.

“diriku, tolong selamatkan aku.”

Sampai aku tenggelam sepenuhnya. tidak pernah ada yang menyelamatkanku. Diriku yang lain tidak akan pernah bisa lagi menyelamatkanku. 

• • • 
#GadisAksara_☕ 

Januari, hari kedua 2025