Puan pecandu Sunyi Penata Diksi Dalam Rengkuh Semesta Tuli //PriaKunodalamSajak🍂 #GadisAksara_ #PuanKata
Senin, 13 Oktober 2025
The Pyre and The Flames That Burn the Truth
Jumat, 10 Oktober 2025
~Sang Terang~
Rabu, 08 Oktober 2025
Menara Puing
|•🦋•| Catatan Perempuan
Menara Puing
I — Ratapan
Berapa lama, ya Tuhan, harus kupanggil Engkau, sedang kota merintih di sela langkah yang retak? Berapa musim lagi aku melihat darah di jalan, mata yang tertutup oleh debu kekerasan? Hukum menjadi beku di bibir para hakim, keadilan bak daun gugur terdampar di trotoar. Orang fasik mengepung yang benar, dan kebenaran seperti burung kecil; terperangkap di jaring malam.
II — Sabdaan
Lalu Engkau berkicau, bagai rana yang memecah ari, “Aku menenun kereta badai di langit kelam yang jika kututurkan, bahkan musim akan ternganga, sebuah badai yang manusia tak percaya akan datang dalam bisikku.” Di sana, di ufuk bangsa-bangsa yang tak kuduga, tercipta raja-raja kiamat yang melangkah seperti singa lapar, menyapu setiap kota yang meninggi.
III — Keraguan
Tuhanku, bukankah Engkau yang suci, takkan mati selamanya? Mengapa tangan-Mu memilih cambuk yang lebih berduri daripada luka kami? Mengapa orang jahat menjadi alat-Mu, dan orang yang lebih cemar memerintah di atas kami? Kami seperti ikan tanpa jala, ditangkap, diangkat, dan dipuja oleh nelayan yang tak mengenal nama-Mu.
IV — Refrain
Maka aku naik ke menara, berdiri menjadi penjaga di pintu langit. Aku menulis di loh hatiku: “Aku akan menunggu jawaban-Mu, walau malam menelan jam, dan pagi menelan harap.” Lalu Engkau berkata: “Tulis penglihatan itu, jelas, lebar, agar yang membacanya berlari. Sebab penglihatan itu menunggu waktu yang ditetapkan. Jika berlambat, tunggulah; ia pasti datang, takkan menunda.”
V — Pujian
Dan pada hari badai itu reda, aku berdiri di tanah yang basah oleh air mata. Meski pohon ara layu tak berbunga, dan pokok anggur tak berbuah, meski ladang kosong terbengkalai dan kandang tanpa ternak, aku akan bersorak dalam Tuhan; bersukacita dalam Allah yang menyelamatkan aku. Sebab Engkau, Tuhanku, adalah kekuatanku. Engkau menjejakkan kakiku seperti kaki rusa yang terbang, membiarkan aku berjalan di atas bukit-bukit yang tinggi. Dalam kemarau, Engkau adalah embun—jadi nyanyianku.
• • •
#GadisAksara_☕
Oktober, 2025
Senin, 06 Oktober 2025
Monster di Kepala—
|•🦋•| Catatan Perempuan; Monster di Kepala
malam ini, monster-monster itu kembali beraksi, membawa beban-beban yang dibuatnya saling tumpang tindih. mereka kembali menggelar pesta, dan aku mendengar beberapa lolongan; seperti serigala kelaparan. suara terbahak-bahak juga tangisan yang menggema— menghantui setiap sudut kesadaran. naasnya, aku hanya bisa melihat tubuhku digerogoti— hampir seluruh mengenaiku di bawah kendali.
sepanjang pesta mataku terjaga, semakin larut aku mulai melihat mereka berdiri di sudut— mengajaku menari atau meratapi sesak di dada kiri. seperti bubur yang sudah dicampur aduk isi kepalaku penuh carut marut. perasaan yang berdarah-darah, kantung mata lelah, jantung berdebar dan jiwa yang meminta muntah, malam yang panjang penuh resah-gelisah.
aku sudah terbiasa dengan kunjungan mereka, tetapi itu tak membuatnya lebih mudah. masing-masing malam adalah pertarungan baru melawan bayang-bayang di kepalaku. aku berpesta dalam kegilaan ini, tetapi aku tahu, aku belum benar-benar baik-baik saja. dan fajar mungkin akan membawa sedikit harapan, tapi monster-monster itu akan kembali— siap menghantui malam berikutnya.
𖡼𖤣𖥧𖡼𓋼𖤣𖥧𓋼𓍊𖡼𖤣𖥧𖡼
#GadisAksara_☕
Oktober, 2025