Minggu, 07 Juni 2026

23👑🎂— Renungan & Refleksi 🌹🤎🦋


|•🦋•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru

Hari ini aku berulang tahun ke-23.  
Hari ini Gereja merayakan Tubuh dan Darah Kristus—yang juga diserahkan seutuhnya untukku.  

Aku teringat cerita Bapak dan Ema, cerita yang bahkan sudah sejak usia dini aku dengarkan dan sampai detik ini selalu kuingat: aku dilahirkan ke dunia di malam hari, sekitar jam 10 malam di Desa Sagu, yang masih Kecamatan Klubagolit waktu itu. Saat itu Dunia masih gelap, tapi aku lahir membawa terang. Dan keesokan harinya, tepat jam 3 sore—Jam Kerahiman Ilahi saat Ema sedang berdoa, saat Yesus menghembuskan napas terakhir di kayu salib - rosario melingkar di leherku. Aku memang tidak mengingat kejadiannya dan Rosario itu kini tidak lagi berada di leherku, tetapi maknanya tidak pernah lepas. (Ada cerita panjang dibalik Rosario yg tdk ada di saya skrng)

Bukan aku yang minta. Bukan aku yang pilih. Tapi Tuhan sudah lebih dulu “mengalungkan” tanda doa dan kerahiman itu padaku.  

Aku lahir di jam 10 malam; saat dunia gelap, tapi Tuhan bilang "jadilah terang". Dan Rosario melingkar di jam 3 sore; saat darah dan air memancar dari hati Yesus, tapi Tuhan bilang "inilah kerahiman-Ku untukmu".  

23 tahun lalu, sebelum aku bisa berdoa, rosario sudah mendoakanku di jam kerahiman. 23 tahun ini, sebelum aku bisa mengucap syukur, Tubuh dan Darah-Nya sudah menebusku di altar yang sama dengan kayu salib itu.  

Aku sadar: hidupku bukan kebetulan. Sejak detik pertama jam 10 malam itu, aku sudah dipeluk. Dipeluk oleh doa Bunda Maria lewat rosario di jam 3 sore. Dipeluk oleh kurban Yesus yang mati jam 3 sore juga. Dipeluk oleh Ekaristi yang akan aku terima di altar.  

*Makna rosario menurut teladan Bunda Maria

Bunda Maria mengajariku lewat rosario itu. Rosario bukan sekadar untaian manik-manik. Rosario adalah sekolah "Fiat"-nya Maria. Setiap "Salam Maria" mengajariku bilang "Ya" seperti Maria saat malaikat datang. Setiap peristiwa Rosario mengajak aku merenungkan hidup Yesus: dari kelahiran-Nya yang sederhana, sampai kurban-Nya di kayu salib jam 3 sore, dan kemuliaan-Nya di surga. Rosario mengajariku untuk "menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya" - sama seperti Bunda Maria.  

Di umur 23 ini, aku mau belajar diam, mendengar, dan percaya. Tidak buru-buru protes. Tidak buru-buru takut. Tapi menaruh semua persoalan, masa depan, dan lukaku di tangan Bunda... lalu menatap Yesus.

*Makna rosario & perjalanan hidupku 23 tahun: 

Aku baru mengerti sekarang. Rosario mengingatkan bahwa hidup ini adalah rangkaian doa. Satu butir demi satu butir, sederhana, namun jika dirangkai akan menjadi untaian yang indah menuju Tuhan. 

Rosario itu sudah tidak ada lagi padaku sekarang, tapi rindunya tetap tinggal di hatiku. Ternyata yang kurindukan bukan bendanya, melainkan tanda itu: bahwa aku sudah digandeng Tuhan sejak pertama kali membuka mata.

Dan di 23 tahun hidupku ternyata seperti satu rangkaian rosario; 
Ada peristiwa Gembira: lahir jam 10 malam bertemankan lampu sumbuh, dapat hadir bertemu Bapa dan Ema, bertemu banyak orang dan ketawa bersama. Saat itu aku belajar bersyukur.  

Ada peristiwa Sedih: gagal, ditolak, persoalan yg selalu stuck, menangis sendiri malam-malam. Saat itu aku belajar "Fiat" - pasrah dan percaya.  

Ada peristiwa Cahaya: ketemu orang baik, teman yang menolong tanpa diminta. Saat itu aku merasa Yesus hadir lewat mereka.

Ada peristiwa Mulia: tiap kali aku bangkit lagi sehabis jatuh, tiap kali aku masih mau lanjut berdoa walau capek/lelah. Saat itu aku merasakan kebangkitan kecil.  

Rosarionya tidak pernah putus. Tali yang mengikat manik-manik itu ialah kasih Tuhan yang tidak pernah lepas dari aku. Dari jam 10 malam kelahiranku, sampai jam 3 sore kerahiman-Nya, sampai hari ini di umur 23. Ada manik yang besar, ada yang kecil. Ada hari yang berat, ada hari yang ringan. Tapi semuanya dirangkai jadi satu cerita: cerita Tuhan yang setia.

Aku mau belajar seperti rosario itu - melingkar, setia, menuntun setiap hari. Satu "Salam Maria" demi satu "Salam Maria". 
Aku mau belajar seperti Hosti Putih itu - hancur, dipecah-pecah, dibagikan... tapi justru di situlah aku jadi sumber kekuatan orang lain.  

Tuhan, terima kasih untuk 23 tahun napasku.  
Terima kasih untuk jam 10 malam kelahiranku yang Kau jadikan awal terang.  
Terima kasih untuk jam 3 sore kerahiman-Mu saat rosario melingkar di leherku.  
Terima kasih untuk Bunda Maria yang lewat rosario mengajariku cara mencintai Putra-Mu. 
Terima kasih untuk setiap peristiwa hidupku; gembira, sedih, cahaya, mulia—karena semua itu jalan-Mu mendewasakanku.  
Terima kasih untuk Tubuh dan Darah-Mu yang menjamin masa depanku.  

Terima kasih yang tentunya tidak bisa saya bayar hanya dgn ucapan tapi juga doa yang selalu kekal dan abadi untuk Bapak Aloysius Arkian Matutina & Ema Antonia Dolorosa Tobi, yang jikalau bukan karena dan lewat mereka saya tidak akan hadir di dunia ini. Satu hal yang saya pahami juga, bahwa kasih Tuhan itu begitu besar atas Ema dan Bapak, karena keteguhan, ketaatan iman Ema dan Bapa Tuhan menghadirkan juga banyak peristiwa seperti Rosario utk perjalanan hidup rumah dan cinta kalian. Syukur, ikhlas, tabah, dan kepasrahan Ema dan Bapa untuk meletakkan semuanya dan bersandar dalam Doa Pada Bapa di Surga menjadi bekal juga untuk kehidupan iman kami anak-anak. 

Di umur baru ini, aku serahkan hidupku lagi. Utuh. Seperti Engkau yang memberikan diri-Mu seutuh-utuhnya untukku jam 3 sore di kayu salib. Seperti Bunda Maria yang berkata "Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu".  

Pada usia 23 ini Tuhan bertanya dengan lembut: maukah engkau menjadi seperti roti itu? Tidak perlu sempurna. Cukup bersedia “dipecah” melalui pengorbanan kecil setiap hari: sabar ketika lelah, mengampuni ketika disakiti, berbagi waktu bagi yang kesepian. Dari kepingan hidup yang dipecah itulah orang lain akan merasakan kehadiran Tuhan.

Rosario di leherku dulu dan Hosti yang akan aku terima hari ini adalah dua sisi kasih yang sama. Rosario berkata, “Engkau milik Tuhan”. Ekaristi menjawab, “Tuhan milik engkau”.

Doa
Tuhan Yesus, Roti Hidup, pada hari ulang tahunku yang ke-23 ini aku bersyukur atas tanda rosario yang melingkar di leherku sejak lahir. Ambillah seluruh hidupku, berkatilah, pecah-pecahkan keinginanku, lalu jadikanlah aku roti yang mengenyangkan sesamaku. Semoga hidupku menjadi rosario yang hidup: sederhana, setia, dan menuntun orang lain kepada-Mu.  
Amin.  

• • • 
#GadisAksara_☕ 

Juni, hari ketujuh 2026

Senin, 01 Juni 2026

—02✨🦋


|•🦋•| Catatan Perempuan 

Ingatanku tidak kekal , karena itu tentangmu tidak pernah aku persilahkan hilang, di sini aku mencintaimu dengan teramat banyak, lebih banyak dari degup-degup yang kita hitung debarnya saat kita bertukar cerita. Harimu baik? Semoga selalu iya, meski buruk aku ingin menjadi obat sakit kepala yang sering kau tahan sendiri dengan tangis tanpa suara itu.

Paragraf-paragraf ini tidak akan terlalu panjang, tidak sepanjang rindu yang aku senyapkan. Kau tau, kamu adalah penghuni palung dalam, sesuatu yang aku sematkan dengan banyak-banyak harap baik. Anggap aja aku terlalu bebal, keras kepala yang menginginkanmu lebih banyak dari ibu, sebab katamu ibu akan menua, dan aku juga ingin tuaku ada kamunya, dengan secangkir kopi atau senja yang malu-malu merahnya, atau sebuah buku tebal yang tak pernah kita tamatkan sebab kita terlalu sibuk bertukar peluk.

Tidak akan ada selesai dalam tulisan ini, tidak akan ada sampai pada kepalaku tau cara mereset kembali pada angka nol nol.

• • • 

#GadisAksara_☕ 

Juni, 2026