Tetesan air yang jatuh di atap rumah adalah pemberi kabar. Tentang aku yang manja suka berlama-lama mengulur waktu berbalas pesan denganmu.
Katamu ; 'Aku teramat menggemaskan apabila sedang bercerita perihal hari, senja, malam, juga kecupan-kecupan embun fajar. Tidak tertinggal pula dongeng pelelap tidur.'
Aku bahkan seperti anak kecil yang sering merengek ingin kau bujuk, tertidur di kelopak matamu. Membelenggu hangat dalam dekapan mayamu.
Kau pernah berujar ; aku adalah bagian dari hidup yang sungkar dimengerti sering bikin insomnia, tetapi berhasil membuat diri menyadari akan suatu hal yang tak pernah tersadari. Caramu menyayangi sederhana tetapi berarti.
Dan kini, kita sudah menjadi orang asing, yang takkan menyapa jika benar-benar perluh. Bahkan tak saling mendoakan atau sekedar ingat.
Tak ada lagi puisi yang kau lampir dalam sunyi, untuk meredam rindu hati. Tak ada lagi senandung penenang yang kau sampaikan lewat pesan singkat yang notifnya selalu kutunggu.
Aku bingung, sebab ada saja ulah si rindu untuk mengingatkanku tentangmu :
Kadang diperlihatkan pada manis senyummu
Kadang diperdengarkan pada serak suaramu
Kadang semua yang kulihat dijemalkannya serupa kamu.
Apa mungkin, ini masih bagian dari kenang atas diriku yang belum sepenuh ikhlas melepas kepergian mu.
_Anak Manusia [Selepas Kasih, Kita Berpisah]_
#GadisAksara_☕
Kupang, 16 Februari 2022
"Diriku yang belum sepenuh ikhlas melepas kepergiaanmu" mendalam sklii🥺😢
BalasHapus#mangatsNov
Unchhh makasih syg, ini sebagian dari usaha:)
HapusSiap semangat ❤️☕