Ada jarum-jarum di kepalaku.
Mengurai jahitan memori sampai yang paling tersembunyi. Mengantar tiap benangnya pada masa-masa ketika semua tak serumit sulaman di benakku.
Pada senyuman ayah yang mengantarku ke sekolah, pada ciuman ibu yang mendongenkanku sebelum tidur. Pada Senda gurau di atas kasur dengan Kaka-adik yang berisik sesekali terkikik.
Namun bila kutera, memori itu tak pernah kupelihara--barangkali benang yang sembarang tersasar. Barangkali kenangan orang lain yang kucari, berharap itu adalah punyaku sendiri.
Ada jarum-jarum di kepalaku.
Menusuk ke tempurung, membocorkan genang-genang yang tak mau lagi kukurung. Tentang cinta yang buta, prasangka yang mengada-ngada, gegabah yang latah, serta benci yang terperinci.
Basah, mengalir tak tentu arah, membasuhku pada sepertiga malam terakhir, hanya untuk merutuk Tuhan pada malam berikutnya lalu berdoa besok tak perluh bangun kembali.
Ada jarum-jarum di kepalaku.
Suatu saat, ujung-ujungnya akan menusuk otakku hingga menyusut dan mengerut. Lalu memori-memori itu--yang sah dan yang salah, yang usah dan yang remah, yang betah dan yang gerah--akhirnya meloloskan diri dari kuburku.
Terserap oleh jabang baru, terhirup oleh napas baru, terendam dalam kepala baru yang nantinya akan di tusuk jarum-jarum baru.
Sampai saat itu, hidup masih lama, sedang aku masih kepayangan menanggalkan jarum yang kau tinggalkan.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
[Penfui, 14 Mei 2022:]
📷 ; Pinterest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar