Selasa, 24 Mei 2022

Pro(sa)ya ; Karangan Bebas Tanpa Kaidah Mencinta


Pro(sa)ya ; Karangan Bebas Tanpa Kaidah Mencinta 

Entah kali ke berapa, kata-kata tak henti menggoda mendung di mata yang bersikukuh menahan jatuh rintik dikertasku. Rindu semena-mena, hanya bisa memaksa kubuatt puisi atau kuteguk bersama secangkir kopi. Aku malas melangkah ke dapur, aku buat puisi. 

Lagi, aku hilang. 
Menelusuri huruf-huruf, memilih yang mana aku, dia, cinta, luka, sendu, rindu, lupa, tapi tidak untuk berhenti. Entah di mana ia bersembunyi atau memang aku malas mencari. 

Aku betah duduk termenung menunggu hujan jatuh. Biasanya aku akan keluar, berpura-pura mengambil jemuran lalu meraba gerimis berusaha mengira-ngira apa yang sebenarnya ingin disampaikannya pada bumi, tapi sudah lama matahari menyombongkan diri membuatku gerah hingga kujatuhkan penaku. 

Kertasku masih kosong. 
Kata-kata sudah menumpuk dalam dada siap membangun istana megah, penantianku dayang setia, egoisku pengawal hebat. Hati bahagia memiliki semuanya walaupun masih tanpa dia, istanahku tidak memiliki raja, aku enggan diberi gelar ratu. Lalu, istanahku untuk apa? Aku robohkan kata-kataku, kertasku masih kosong. 

Aku tidak pernah menghitung puisiku, aku sibuk menutupi menjela, mencegah angin menggerakan tirai kamar berusaha mengintip tulisan sebuah nama dibalik kertas puisiku. 

Tidak akan semudah itu 

Aku menyimpan rapat rahasiaku. Aku menghapus jejakku dalam segala sesuatu perihal nama itu dengan cara menyebar pecahan puisi-puisiku. Berantakan, aku tidak memberi tema yang sama. 

Hari ini aku malas menyapu, kubiarkan serpihan kaca pecahan puisiku tergeletak di lantai kamar. Aku hendak tidur, bangkit dari kursi berjalan ke kasur, kakiku berdarah. Kebanyakan serpihan kaca di kakiku ialah puisi fiktif. Aku mahir dalam hal itu, tapi kini mereka melukaiku. 

Aku butuh kembali menulis, puisi menyembuhkanku. 

Aku masih tahu betul bagaimana dia benci membaca, maka itu membebaskanku untuk menulis. Hingga aku bercita-cita menjadi penulis, mengarang kisahku dengannya, berharap bisa bahagia, berpura-pura tepatnya. 

Aku bercita-cita menjadi penulis, menggenggam kata-kata lalu aku bebas berkisah tentang siapapun, dia, ibunya, ayahnya, kakaknya, ataupun novel-novel kepunyannya. Ternyata masih saja aku terkekang dengan segala perihal dia. Jadi aku tutup rapat cita-citaku agar hanya aku yang tahu 

Aku ingin menjadi apa?
Seseorang yang dia cinta

Sial!
Tulisanku berakhir harapan, lagi. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[AnakManusia; definisi merindukan rumah yang sesungguhnya. Ayok, pulang. Sudah terlalu banyak yang dilalui di sini:]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar