Senin, 22 September 2025

phi~φ


|•🦋•| Catatan Perempuan 

Phi

Malam itu, sunyi. Tidak ada suara selain kafilah dinding-dinding yang berbicara. Aku berdiri tepat satu depa di depan lukisan Monalisa. Gadis yang dicipta Leonardo da Vinci. Aku yakin ia melukisnya tidak sambil melempar dadu. Terbukti dari tanda tanya yang lahir dari senyum, mata, dan semua yang ada pada Monalisa. Aku mencoba mengajaknya berbincang, tapi tidak keluar barang sepatah kata saja dari bibir yang membawa selaksa apa, kenapa, dan bagaimana.

Malam semakin jatuh pada pelukan sepi. Sedang aku sibuk menerka tentang apa yang dibawa serta oleh Monalisa. Dingin menelanjangi kaki, hawa tak sama lagi—tiba-tiba segurat senyumnya menarikku ke labirin. Aku tak tahu arah mata angin, tak terbaca, tanpa kompas dalam genggaman. Apa Monalisa ingin mengajakku berbicara? atau ia ingin menunjukan jawab-jawab dari segala tanya? tidak ada rujukan pasti, yang kutemui hanya segitiga, lingkaran, piramida. Terletak begitu presisi.

"Aku adalah kehidupan." Suara seorang wanita yang entah dari mana asalnya. Sedikir lirih tapi masuk tanpa aba-aba ke ruang telinga. Kehidupan? Apa ini sebuah pesan? Ah, sepertinya ini sisa tegukkan semalam.
Dalam langkah kesekian, seperti supernova, meledak, datanglah sadar dari segala yang menggelapkan mata. Ternyata aku berjalan secara spiral.

"Fibonnaci." Suara tanpa wujud pembawanya menghampiri lagi.

Pada penasaran yang kian meninggi, seperti tegukan kesekian seloki. Tercatat di dinding tanpa kaca, sebuah angka. 

'1,618'

Semua nampak nyata—semesta. sunyi, sunyi, sunyi—menusuk. Terbuai aku. Tak mengindahkan sekitar. Seperti waktu ikut berhenti. Tapi, selalu ada tapi. Di tengah takjub yang menaungi, suara gemuruh begitu masif seperti sekumpulan orang barlarian, tiang-tiang tak ubahnya ranting kering kerontang, semuanya runtuh. Gelap, semuanya gelap, tak ada yang bisa kulihat.

Aku membuka mata, membawa keheranan. Tepat seperti semula, satu depa di depan Monalisa. Apa aku mabuk? Nampaknya tidak. Monalisa dan aku saling melempar senyum. 

" Vibrasi, harmoni, Energi "

• • • 
#GadisAksara_☕ 

September, 2025 

Kamis, 11 September 2025

🦋


|•🦋•| Catatan Perempuan; LUKA YANG TAK KUNJUNG SEMBUH, SEBAB TERAMAT KUSEMBAH

kadangkala, aku merasa menjadi manusia paling tidak berdaya; menyapa tiap insan dengan tanya paling rancu sedunia

"siapa manusia yang mampu mencintai, mengasihi, dan mengisi lubang di hati?"

suaraku barangkali hanya sapuan angin pada gedung pencakar langit yang dingin nan tinggi, sebab tak pernah kutemui satu mulut pun menyahut dengan salut

.. 

barangkali, di dunia ini aku adalah satu-satunya penyembah luka; gadis rapuh yang memegangi lubang di dadaNya—berjalan tanpa arah tujuan, menawarkan kesepakatan perihal kasih dan sayang yang hilang

barangkali di dunia ini, yang paling fasih tertawa adalah sisi gelap dari duka yang ditimbun dalam dada tiap pemilikNya

.. 

siapa gerangan yang mampu mengisi lubang di dadaku, Ma? menyulamnya dengan benang kasih, merajut tiap kesepiannya yang pahit

siapa gerangan yang mampu mengisi lubang di dadaku, Ma? sedang di sana teramat sesak oleh kenangan 

siapa gerangan yang mampu, mengisi lubang di hatiku, Ma? jika luka ini teramat kusembah dan puja, terawat perlahan meski cukup sia-sia

• • • 

#GadisAksara_☕ 

2025