Puan pecandu Sunyi Penata Diksi Dalam Rengkuh Semesta Tuli //PriaKunodalamSajak🍂 #GadisAksara_ #PuanKata
Sabtu, 30 April 2022
PENGHUJUNG APRIL
Kamis, 28 April 2022
PUISI
Setiap barisnya...
Diksi indahnya
Semua tertata rapi di sana
Menuju akhir yang berjuluk Rima
Lalu terangkai larik berbanjar-banjar
Setiap kita adalah puisi
Hanya saja ada beberapa yang tak menyadari
Kitalah diksi indah sang perangkai baris
Meski kadang kala banyak majas tak bisa dipahami
Ada yang berperan dalam puisi sedih
Puisi sedih yang benar-benar indah
Tapi banyak yang hanya terlarut dalam kesedihannya
Tanpa memaknai letak keindahannya
Setiap kita adalah puisi
Bisa menjadi candu bagi siapapun
Hanya saja tak setiap candu mampu menampakkan diri
Lalu bukan berarti kita tak indah, kan?
Ada yang berperan dalam puisi bahagia
Puisi bahagia yang terlalu menyenangkan
Hingga ingin menangis terlampau haru
Tapi banyak yang hanya terlarut dalam kebahagiaannya
Lalu mengabaikan tujuan puisi sejatinya
Perangkai puisi tidak bodoh
Ia menulis ratusan puisinya
Balada, ode, satire, romansa, dan berbagai halnya
Lantas kita ditulis sebagai Balada?
Haruskah kita menuntut untuk menjadikannya puisi romansa?
Tidak!
Karena setiap kita adalah puisi
Setiap diksi...
Baris yang tertulis...
Larik yang dirangkai...
Pantas disebut candu hakikinya
//Selamat Hari Puisi Nasional
//Selamat Hari Chairil Anwar
#GadisAksara_☕
[Aku puisi sedih yang terlampau menggembirakan, bagaimana dengan kalian?;]
Kota Kasih, 28 April 2022
Selasa, 26 April 2022
Kenang Saja Aku Pada Puisi-Mu
Aku menulis tentangmu
Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisku
Kata-kata, sia-sia
Tak satu hurufpun menyentuhmu
Aku pilu tak dibaca
Kupikir sukacitaku kamu
Tapi luka seiring langkahmu dan aku mengejarmu.
Seharusnya aku dengar kata ibu ; jangan mari sambil menutup mata, akan mudah aku terjatuh. Hati salah arah
Aku tak bisa membacamu
Kata-katamu berjuta makna,
Aku yang mana?
Seharusnya kudengar kata ayah ; jangan jatuh cinta pada pujangga, akan mudah aku terluka. Hati salah kira
Aku berlarian ke arahmu
Kau tak ingin kutuju
Aku cinta puisimu, walau bukan aku isi tulisanmu. Aku bisa apa?
Menghasut ibu agar memaharahimu?
Atau ke pusara ayah untuk mengadu?
Aku menangis di puisiku
Tidurlah semalam saja di puisi ini, rasakan cinta pada detak spasi. Tepat di titik akhir puisi ini nanti, kamu akan terbangun dari tidurmu berbenah dari meja di kamarku, beranjak dari buku kumpulan puisiku setelah itu kamu boleh pergi.
Menetaplah di puisi yang kamu tulisi
Jangan pernah kembali pada puisiku
Tanganku terlalu pedih menulismu, dan setelah puisi ini, kuakhiri harapanku.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
Bumi Manusia, April 2022
Minggu, 24 April 2022
Pada halaman kesekian namamu selalu menjadi objek tulisan. Aku pasti mati, tapi puisiku bersamamu abadi.
Matamu ; lebih sepi dari kota-kota mati yang pernah kujelajahi
Namamu ; cerita indah yang pernah kusudahi
Ahh basi
Begitu yang kutulis kala itu
Ketika kau pamit tanpa permisi
Maka puisi adalah obat patah hati yang paling kunikmati.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
Kota Kasih, 23 April 2022
UNDANGAN
Daftar bintang tanggal pada halaman bukuku telah penuh
Entah, ini kali ke berapa aku mengundangmu pada puisiku
Kelihatannya samar siapa tokoh utama di sana
Tapi malam ini kaulah alamat yang kutuju
Meski bebal hati ini mengakui itu
Jika kau satu-satunya yang menjebakku pada mimpiku sendiri
Aku telah menyiapkanmu hidangan foto-foto lama dalam galeri
Hanya sekadar bernostalgia, siapa tahu kau lupa.
Jika aku pernah mengusap rintik pada bola matamu
Aku juga telah membuatkanmu secangkir tawa hangat
Agar kau bisa menikmati perayaan malam ini
Berdansa dengan gulita diiringi lagu keabadian
Sungguh pun begitu aku telah terbiasa dengan kepalsuan
Ohh iya,
Sekarang hampir pukul 00.
Silakan kembali!
Bungkus saja kenangan itu dan bawa pulang
Selamat menikmati!
Maaf pestanya terlalu singkat.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
Kota Kasih, 24 April 2022
Jumat, 22 April 2022
SELAMAT HARI BUMI
Kita mengeluh bagaimana matahari membakar kulit kita, namun tidak pernah mengingat bagaimana kita membakar para akar jantung dunia.
Seenak jidat, bahkan hanya menyalahkan dunia. Kita saling menunjuk, tanpa melihat berapa jari mengarah pada kita.
Bumi kita buat menangis, kita pisahkan juga akar-akar dari tempat tidur tanah mereka. Membuang sampah sembarangan, namun saat diingat malah menunjukkan wajah merah padam.
Bumi berdarah, tapi kita hanya terus menorehkan luka tanpa membalutnya.
Kian hari kian berdarah, mungkin karena itu matahari kian membakar tulang belulang kita. Mungkin semua itu sebagai pengingat ; bahwa kita terlalu banyak merusak bumi.
Bumi manusia ini sudah penuh, bahkan menjadi ladang bertumpahnya darah dan air mata.
Bumi menjadi lahan menampung keladi.
Tak berdosa namun menanggung derita.
[Selamat Hari Bumi ; Sudahkah kita sadar dengan apa yang kita perbuat!?. Sudahkah kita menjaga Ibu Kita ini!?. Untuk itu, mari kita menjaga Ibu kita dan memulainya dari tindakan-tindakan kecil:]
//GadisAksara_☕
Bumi, 22 April 2022
Kamis, 21 April 2022
AKSARA UNTUK KARTINI
AKSARA UNTUK KARTINI
Nama itu masih mewangi
Meski zaman telah berganti
Harum di persada Pertiwi
Semerbak ke penjuru bumi
Dialah Raden Ajeng Kartini
Sang Putri Patriot sejati
Penyuluh cita-cita mulia
Pejuang emansipasi wanita
Tak peduli jiwa yang rapuh
Ia tetap mengayuh tanpa mengaduh
Hingga kehendak menjadi cita
Agar perempuan tetap menjadi manusia
Kodrat tetaplah kodrat
Namun jiwa tak bisa dikekang
Kutulis aksara cinta ini untukmu, wahai Ibu Kartini
Jiwa-jiwa wanita bangsa terasa mandiri saat ini
Kau hidup dalam impian-impian kami
Kau tumbuh di dalam sanubari
Hak-hak wanita yang dibatasi
Kau perjuangkan sampai mati
Hingga mereka dapat menempuh pendidikan tinggi
Tanpa harus terkekang oleh tradisi
Wahai, Ibu Kartini
Sang Putri Kesatria
Namamu abadi sepanjang masa
Meski kini ragamu telah tiada
"Habis Gelap Terbitlah Terang,
Itulah kata yang terkenang."
[Kartini Day. Untuk segenap Kaum Perempuan di Bumi Nusantara ; Mari kita merayakan kemenangan untuk Kemerdekaan dari Penjajahan atas hak-hak yang sepantasnya diperjuangkan.]
Selamat Hari Kartini, untuk semua Perempuan-perempuan Hebat✊🌹
//GadiaAksara_☕/
/Genoveva Matutina
Kupang, 21 April 2022
Senin, 18 April 2022
Rindu Yang Tak Pernah Sampai
Kusentuh wajahmu melalui doa-doa malamku
Kutitipkan rindu melalui redupan bintang
Sesering kali rindu seperti kunang-kunang yang setia dalam keheningan malam
Yang masih duduk manis dibalik tanaman tanpa dekapan
Menggigil beku dan bisu
Seolah rindu tak pernah sampai padamu
Maka, ketika pagi menyapaku melalui mendung
Aku masih tetap menyimpan doa-doa malamku dalam setiap rintiknya
Tak ku hiraukan berapa banyak rintikan itu jatuh dan mengalir
Namun tak sampai padamu
Ketika malam kembali menyapaku melalui redupan bintang
Kutitipkan lagi rindu dan masih saja kunang-kunang menanti dibalik celah tanaman yang menggigil beku dan bisu
Dan masih saja rindu itu dalam sunyi yang tak pernah sampai padamu.
//Pria Kuno dalam Sajak 🍂
#GadisAksara_☕
Penfui, 18 April 2022