Selasa, 26 April 2022

Kenang Saja Aku Pada Puisi-Mu

Aku menulis tentangmu 

Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisku 


Kata-kata, sia-sia 

Tak satu hurufpun menyentuhmu 

Aku pilu tak dibaca 


Kupikir sukacitaku kamu

Tapi luka seiring langkahmu dan aku mengejarmu.

Seharusnya aku dengar kata ibu ; jangan mari sambil menutup mata, akan mudah aku terjatuh. Hati salah arah


Aku tak bisa membacamu

Kata-katamu berjuta makna,

Aku yang mana? 

Seharusnya kudengar kata ayah ; jangan jatuh cinta pada pujangga, akan mudah aku terluka. Hati salah kira 


Aku berlarian ke arahmu 

Kau tak ingin kutuju 

Aku cinta puisimu, walau bukan aku isi tulisanmu. Aku bisa apa? 

Menghasut ibu agar memaharahimu?

Atau ke pusara ayah untuk mengadu?

Aku menangis di puisiku


Tidurlah semalam saja di puisi ini, rasakan cinta pada detak spasi. Tepat di titik akhir puisi ini nanti, kamu akan terbangun dari tidurmu berbenah dari meja di kamarku, beranjak dari buku kumpulan puisiku setelah itu kamu boleh pergi. 

Menetaplah di puisi yang kamu tulisi

Jangan pernah kembali pada puisiku 

Tanganku terlalu pedih menulismu, dan setelah puisi ini, kuakhiri harapanku. 


//Pria Kuno dalam Sajak🍂

#GadisAksara_☕


Bumi Manusia, April 2022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar