Aku menulis tentangmu
Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisku
Kata-kata, sia-sia
Tak satu hurufpun menyentuhmu
Aku pilu tak dibaca
Kupikir sukacitaku kamu
Tapi luka seiring langkahmu dan aku mengejarmu.
Seharusnya aku dengar kata ibu ; jangan mari sambil menutup mata, akan mudah aku terjatuh. Hati salah arah
Aku tak bisa membacamu
Kata-katamu berjuta makna,
Aku yang mana?
Seharusnya kudengar kata ayah ; jangan jatuh cinta pada pujangga, akan mudah aku terluka. Hati salah kira
Aku berlarian ke arahmu
Kau tak ingin kutuju
Aku cinta puisimu, walau bukan aku isi tulisanmu. Aku bisa apa?
Menghasut ibu agar memaharahimu?
Atau ke pusara ayah untuk mengadu?
Aku menangis di puisiku
Tidurlah semalam saja di puisi ini, rasakan cinta pada detak spasi. Tepat di titik akhir puisi ini nanti, kamu akan terbangun dari tidurmu berbenah dari meja di kamarku, beranjak dari buku kumpulan puisiku setelah itu kamu boleh pergi.
Menetaplah di puisi yang kamu tulisi
Jangan pernah kembali pada puisiku
Tanganku terlalu pedih menulismu, dan setelah puisi ini, kuakhiri harapanku.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
Bumi Manusia, April 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar