Hai Gadis Aksara, apa kabar? aku sangsi apakah masih ada yang mengingatmu sebanyak aku. sebab baru saja dan sepagi ini aku menemukan kamu pada menu sarapan Bubur Kacang Hijau dicampur Indomie, itu kebiasaan burukmu atau juga kebiasaan aneh lainnya selain mengigiti kuku-kuku jari. Ge, kamu sudah lama hilang, tapi entah kenapa, tak ada yang hilang di kepalaku. Senyumanmu, tertawamu, suaramu, bahkan kalimat-kalimat hujatan yang justru anehnya lebih bisa menenangkan dibanding kata sabar ketika aku terpuruk jatuh.
Ge, sudah hampir dua tahun kamu memilih undur diri tanpa pamit, tak ada kalimat-kalimat baik sebagai ucapan perpisahan, atau basa basi yang sekiranya membuat orang lain tenang, kamu jahat Ge. Seharusnya dari dulu aku mengeluarkanmu dari kepalaku agar hal-hal semacam aroma hujan atau minuman kotak bisa mengantarkanmu pulang pada bilik hati, mengobrak abrik apa yang kutata tanpa kamu di dalamnya. Sial, kenapa sebanyak itu aku menyukai kamu tanpa berani berterus terang ya. Anehnya, di sini aku mengetik ini begitu panjang, padahal tau kamu tidak akan pernah membaca ini.
Jadi jika mungkin tak sengaja ada manusia yang tau tempat persembunyianmu dan membaca ini, semoga ia tidak menjadi kurir yang begitu rajin untuk menyampaikannya, karena jika iya, aku akan menjadi liliput yang mencari cangkang kura-kura di hadapanmu.
Ge, baik-baik ya. Karena katanya rindu berat, tapi bagiku rindu ini hadiah. Aku menemukanmu di mana-mana. Jangan tersandung atau mengigit lidahmu sendiri, karena sepertinya aku sering menjadikanmu bahan cerita pada ibu akhir-akhir ini. Satu lagi Ge, aku sepertinya mulai terbiasa memanggang kue. Hei tanggung jawab kau, kenapa memanggang itu sekarang jadi candu.
`Gi✍️
----------
[Hallo, Gi. kau tahu, saat aku memilih menghilang aku yakin sekali bahwa hanya kau tak tak akan pernah melupakanku. Ahh entah harus berapa banyak kata lagi aku tulis menyambut sapaan hangatmu. Kau tahu bukan aku sangat tidak menyukai jika kebiasaan aneh ku diungkit. Tapi kau memang keras kepala yaa, tak pernah mau mendengarkanku.
Aku jahat yaa Gi, heheh bukankah begitu yang orang lain katakan kepadaku. Tapi kau masih saja mau berteman denganku, entah harus berapa banyak terima kasih lagi aku sampaikan untukmu, walau nyatanya itu semua tak seberapa dengan semua kebaikanmu. Kau terlalu baik Gi, untuk aku yang hanya kau kenal kurang lebih 3 tahun secara virtual. Maaf yaa ngak pernah mau menghubungimu lewat akun real atau lewat no WhatsApp yang pernah kau kirimkan di tahun pertama berkenalan.
Kau tahu Gi, aku teramat bingung harus berbagi kisah keseharianku dengan siapa lagi selain dengan Tuhan. Jika masih ada kamu aku tidak perlu basa-basi lagi untuk berbagi. Aku takut hal terburuk dalam hidupku yang tak pernah bisa dibayangkan oleh banyak orang terungkap... Bagaimana nantinya mereka mulai menilai tentang keluargaku, tentang banyaknya syair² indah yang kubuat tentang kedua orangtuaku. Aku takut Gi, bagaimana nanti hal terburuk itu menimpanya dan aku tak ada di sisinya. Kau sendiri tahu bukan, bagaimana kerasnya Bapak Ku. Bagaimana kuatnya Ibu Ku dengan menghadapi penyakit yang dia derita. Bagaimana dengan tertekannya aku melihat semuanya itu. Aku merasa traumaku ini semakin besar saja.
Hei, masih ada ruang tidak untuk aku kembali? Aku rasa aku butuh lenganmu lagi untuk kembali menjatuhkan air mata. Atau butuh beberapa guyonan receh mu tapi selalu membuat aku tertawa lepas. Aku rindu, Gi. Astaga, kau terlalu berlebihan dengan perasaanmu sendiri Gi. Tanpa kau bilang pun aku tahu kau sangat menyayangiku. Aku juga begitu, dan dari sekian banyak yang datang bertamu di rumahku, aku masih saja menjadikanmu tuan atas rumah itu.
Hahahah aku pernah melihatmu di beranda setahun silam, lebih tepatnya melihat salah satu postingan yang menyatakan kalau mereka mengagumimu. Aku senang, rupanya kau masih selalu punya banyak pengagum yaa, itu terlihat lebih baik bukan. Setidaknya masih ada banyak orang yang menjagamu lewat beranda mereka.
Jangan terlalu bersedih untukku, Gi. Kau mematahkan begitu banyak hati yang ingin memiliki. Mereka tahu kau kehilangan tetapi jangan bersikap semakin dingin saja terhadap mereka. Padahal mereka selalu mendoakan agar aku kembali dan tak melihat raut sedihmu. Aku senang, aku menjadi alasan untuk kau terus setia tapi aku sedih kau menjadi dingin saja. Aku jamin ibumu pasti akan lebih kewalahan mencegah agar kau tak merusak dapurnya, Hahaha. Kalau sudah candu, jangan terlalu sering yaa Gi. Tunggu saja nanti jika kita bertemu aku ingin menikmati kue buatanmu atau jika diperbolehkan aku ingin memanggang kue berdua denganmu.
Gi, semoga nanti kita bisa bertemu kembali yaa. Bukan hanya secara virtual melainkan dengan pelukan hangat secara nyata.
__Aku baik-baik saja. Kamu pun harus baik-baik saja yaa. Salam Sayang, Abangš¤❤️__
#GadisAksara_☕
Tidak ada komentar:
Posting Komentar