Puan pecandu Sunyi Penata Diksi Dalam Rengkuh Semesta Tuli //PriaKunodalamSajak🍂 #GadisAksara_ #PuanKata
Jumat, 20 Desember 2024
Hiraeth
Kamis, 05 Desember 2024
membacamu lebih banyak, lebih hidup seumpama detak
|•🦋•| Catatan Perempuan; membacamu lebih banyak, lebih hidup seumpama detak.
aku ingin membacamu lebih banyak, bukan sebagai yang sesak, bukan sebagai yang tak nampak. aku ingin mengusap lembut luka-lukamu di dalam, memeluk erat bahu-bahu yang lebam jua mengecup seluruh atmamu yang hitam legam. aku ingin menjadi yang pertama dari lengkung senyummu yang jarang-jarang.
saban hari kuusahakan nyaman ikut serta, seperti tidur di pangkuan atau berbagi segala kisah. menjadi teman bicara, menjadi tempatmu merebah segala. memanggilmu kekasihku, menyiapkan keperluanmu di atas meja. aku ingin menjadi tempatmu bermanja dari keluh kesah realita.
aku ingin membacamu lebih banyak, menjabarmu bukan sekadar tebak menebak, melukismu bukan hanya dari sepenggal jejak. perihalmu ingin seluruhnya kutahu, dari netra yang sendu, bibir yang bisu, langkah yang biru, jua kepalamu yang batu. seluruhnya bahkan yang kau sembunyikan satu-satu.
— membacamu lebih banyak lebih hidup seumpama detak.
• • •
//TheRil ♡
#GadisAksara_☕
Desember, hari kelima 2024
Selasa, 03 Desember 2024
Perempuan, Katanya, Ahli Puisinya Sendiri
|•🦋•| Catatan Perempuan: Perempuan, Katanya, Ahli Puisinya Sendiri
Musim panen telah tiba: yang keriput dan menua, yang retak dan menggersang, yang abadi dan tak kenal waktu. Pengabdi kemudian menurut mata angin: yang biru dan berduka, yang nahas dan nihil, yang menjadi rahasia.
Kemudian turun sebuah sabda. Di ladang kata tanpa titik-koma dan para perempuan turut serta, berduyun-duyun dengan kesedihan di kepala. Selebihnya berdiang di serambi rumah, berlomba menenun dan menjahit luka menganga di dada.
Perempuan-perempuan di ladang selesai mengolah setumpuk puisi, gegas menata di tubuh angin, yang tanpa permisi dan tanpa kembali. Kabarnya, ia tukang titip di bilik hati, di mulut-mulut lelaki, di kepala-kepala bayi. Demikianlah ia mengetahui sedikit banyak rahasia kata yang tak terucap lidah dan berujung menjadi air mata. Ia menyaksikan banyak yang tak disaksikan siapa-siapa, seperti gelapnya pencuri berita. Dan angin juga kehilangan perangai. Sebagaimana ia diciptakan untuk memegang janji.
Dan musim-musim paceklik: jatuh mengganggu lumbung-lumbung persediaan kata hingga para perempuan mengeluhkan puisi untuk dimakan. Kepalanya sedang kering kerontang, sementara dadanya beristirahat sebelum hari-hari perang. Sesekali kekeringan semacam ini bertandang dan menghentikan perempuan-perempuan menyiasati kesedihannya yang paling dalam. Paling lama sampai panen puisi berikutnya datang.
• • •
#GadisAksara_☕
Kupang, Desember hari ketiga 2024