|•🦋•| Catatan Perempuan; Rindu Adalah Nihil
Saya pernah ditanyai, sekiranya dari banyak hal yang terjadi apa yang paling saya rindui. Seketika jarum jam seolah bisu, bibir menjadi kelu, waktu seakan berhenti saat itu juga. lalu saya bermonolog, apakah memang ada sesuatu yang saya rindui. Bukankah apa-apa yang terjadi hanya menjadi debu memori, hal-hal yang dilalui itu bersifat abadi, serta waktu yang terlewat adalah sejauh-jauhnya tempat. Tak bisa dikunjungi atau bahkan untuk diulang kembali.
Malam itu menjadi hening, siklus kerja otak kanan kiri bergeming. Kebetulan, bersama dengan itu hujan turun, kalau tidak salah sekitar tengah malam bertepatan pergantian hari. Saya berasumsi jikalau sebuah rindu itu hal egois atas apa-apa yang hilang atau mungkin saja bentuk perlawanan diri karena kenyataan yang sedang dinaungi. Tidak ada jenis rindu yang menyenangkan, semua hanya sugesti dari apa yang tidak bisa didapatkan.
Yang sudah, sudah berlalu. Tak perlu ada yang disesali. Saya yang sekarang adalah bagian dari proses, juga hasil dari yang sempat saya tanam, mungkin juga hari ini dan hari yang akan datang adalah penghakiman atas semua kelalaian dahulu. semua luka lara yang diderita, bagi saya mungkin saja itu adalah penebusan dosa.
Hidup saya lahir dari banyak kesalahan yang berujung penyesalan, terlalu keras pada diri sendiri misalnya. Dalam umur yang terus berjalan, rasanya saya tak perlu lagi memikirkan hal-hal yang bersifat nihil. Saya akan menikmati hidup seolah akan hidup selamanya, saya juga akan tunduk seolah akan mati hari ini.
[Rindu adalah nihil, oleh gn<3va 🕊️]
• • •
#GadisAksara_☕
Juni, hari keenam belas 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar