|•š¦•| Catatan Perempuan
Saya menderita karena pikiran bahwa saya membiarkannya sendirian. Saya membiarkannya berdiri di atas dunia di mana dia tidak punya ruang bercerita. Saya membiarkannya tinggal di antara kekalutan yang mungkin sulit dia atasi. Saya membiarkannya dan dia membiarkan saya.
Saya tidak hanya menolak menepati janji yang pernah saya dan dia rangkai. Saya bahkan tidak lagi menepati janji untuk membersamainya. Saya lupakan janji-janji karena saya memilih melarikan diri. Saya kesakitan dan ketakutan setengah mati. Sebab saya merasa, pengharapan dalam cinta saya sudah mulai salah.
Kendati demikian, saya tidak menyesal. Lebih tepatnya, saya tidak ingin menyesal. Saya berlari demi menyelamatkan diri yang mungkin saja masih tersisa sedikit saja untuk diselamatkan. Saya tidak ingin sakit sendirian.
Namun, saya tetap menderita dalam ketakutan, bahwa saya memang membiarkannya sendirian. Setidaknya, mungkin karena saya pernah ingin menghapus dukanya, sekalipun tak mampu ciptakan bahagia baginya. Sebab saya paham betul, bahagia itu tidak pernah ada dalam diri saya.
Dan, barangkali benar, bahwa saya juga adalah salah satu hal yang keberadaannya dia syukuri. Walau keras saya sangkal karena saya ingin menyelamatkan diri.
Kini bagi saya, doa saya untuk kebahagiaannya masih sama, tetapi saya tambahkan ruang doa untuk kesembuhan saya juga.
• • •
#GadisAksara_☕
Juni, 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar