Senin, 30 Mei 2022

Catatan Diakhir Mei


Catatan Diakhir Mei 

Dalam sajak dan puisi ini telah tertulis namamu 
Yang tak pernah lupa aku selipkan disetiap kata 
Mengurutkan kau dalam tanda titik dan koma 
Agar kau jadikan rindu ini sebagai penjeda 

Di akhir Mei ini aku tengah jatuh cinta 
Cinta yang bersembunyi dalam diam 
Seperti aku mencintaimu sebagai malam 
Menikmatimu pada tenggelamnya matahari 
Merasakan dinginmu yang terus datang menyelimuti tubuh 

Dalam bibir yang berucap disetiap kata yang tertulis 
Menuju rongga sukma yang begitu dalam 
Membuat aku terus menantikan sebuah jawaban 
Di atas harapanku dalam penantian 
Yang bisa saja membunuhku secara perlahan-lahan 

Di akhir Mei ini 
Kau akan senantiasa ku bawa ke dalam ruang imaji 
Penuh khayal, ilusi tak bertepi 
Peganglah tenganku 
Akan ku bawa kau jauh berlabuh
Ke muara bola matamu yang dalam itu 

Ahh ... Kemarilah 
Aku ingin menangis di bahu sebelah kananmu 
Peluklah aku walau hanya sebentar 
Aku butuh jemarimu menghapus tiap tetes air mataku 

Kemarilah, tuan 
Aku ingin berbagi banyak hal denganmu 
Menceritakan kepadamu tentang kisah cinta yang begitu bengis 
Yang sudah membuat luka memar biru di hatiku 
Serta yang mengoyak bibir manis mu ini

Kemarilah, tuan 
Berikan aku puisi darimu yang berdarah olehnya, 
Berikan aku puisi darimu yang meraung padanya di tengah malam  
Sementara sisa Atma tertumpah 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia; Kupang, 30 Mei 2022:]

Gambar ; Pinterest 

Sabtu, 28 Mei 2022

Adalah "Dia"


Adalah "Dia" 

Dia, adalah dia gadis berkerudung dengan tubuh tinggi yang tak sengaja kutemui di persimpangan lorong 3 tahun silam 

Dia, dengan banyaknya tahi lalat yang menghiasi wajahnya dan alis tebalnya juga segaris lesung pipi tak kasat mata 

Dia, yang memiliki senyum manis namun juga bengis kala di depan orang-orang yang tak dia suka

Dia, yang telah banyak mengisi warna pada krenario hidupku. Gadis yang tak pernah sok alim di depan para kenalan baru. Dia juga yang tak pernah segan-segan menegur jika aku melakukan kesalahan 

Dia, yang selalu menjadi topik utama yang di tanya ibu kala aku kembali ke rumah 
"Pulang dgn Aty?" pun kala hubungan kami sedang tidak baik-baik saja "ada baku marah dengan Aty ka ni?"

Dia, yang tak pernah mau mengerti tentang puisi namun selalu memberi semangat kala aku sedang berpuisi 

Dia, adalah dia gadis yang bukan hanya menjabat sebagai sahabat tapi juga sodari sejak ucapan salam juga jabatan tangan kami untuk yang pertama 

Hanya dengan dia, aku pernah menjatuhkan sesuatu di pipi yang lalu jatuh melewati dagu. Sesuatu yang lembut dan hangat. 

Hanya dengan dia, pertengkaran hebat selama 1 bulan itu serasa sudah terlewakan berabad-abad lamanya. 

Dia, adalah dia rindu yang tak pernah tahu jalan pulang, juga rindu yang tak pernah tahu cara untuk menuliskannya 

//Maryati Syaqillah Sari (Aty Lamuda)
#GadisAksara_☕

[Kupang, 28 Mei 2022: Anak Manusia, dan adalah dia yang untuk pertama kalinya kugambarkan dalam sajak milikku, padahal sudah sangat banyak sajak-sajakku berhamburan mengisi berandanya:] 

Rabu, 25 Mei 2022

Obituari


Obituari

Surat-surat kita,
mewujud perantara, 
pembawa berita 
soal rasa-rasamu yang masih lugu 
dan asa-asaku yang sayu

Gambar-gambarmu, mengingatkanku pada mimpi-mimpi yang kita tuang di buku 
juga rona pelangi yang gigih merayapi kukuh 

Ceritakan aku; 
soal puisi, 
toleransi, 
tokoh-tokoh imaji,
pasal hukum yang mati, 
penamu yang tersakiti,
dan apa-apa yang mengiringi malam sepi 

Semenjak pergimu, tiada lagi 

Kini, ceritakan aku; 
apa di sana kau terhibur 
tak hanya oleh puisi-puisi 
tapi juga oleh sunyi pada malam yang sepi 
Di kota yang kau singgahi 

//Pria Kuno dalam sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia:] 



Selasa, 24 Mei 2022

Pro(sa)ya ; Karangan Bebas Tanpa Kaidah Mencinta


Pro(sa)ya ; Karangan Bebas Tanpa Kaidah Mencinta 

Entah kali ke berapa, kata-kata tak henti menggoda mendung di mata yang bersikukuh menahan jatuh rintik dikertasku. Rindu semena-mena, hanya bisa memaksa kubuatt puisi atau kuteguk bersama secangkir kopi. Aku malas melangkah ke dapur, aku buat puisi. 

Lagi, aku hilang. 
Menelusuri huruf-huruf, memilih yang mana aku, dia, cinta, luka, sendu, rindu, lupa, tapi tidak untuk berhenti. Entah di mana ia bersembunyi atau memang aku malas mencari. 

Aku betah duduk termenung menunggu hujan jatuh. Biasanya aku akan keluar, berpura-pura mengambil jemuran lalu meraba gerimis berusaha mengira-ngira apa yang sebenarnya ingin disampaikannya pada bumi, tapi sudah lama matahari menyombongkan diri membuatku gerah hingga kujatuhkan penaku. 

Kertasku masih kosong. 
Kata-kata sudah menumpuk dalam dada siap membangun istana megah, penantianku dayang setia, egoisku pengawal hebat. Hati bahagia memiliki semuanya walaupun masih tanpa dia, istanahku tidak memiliki raja, aku enggan diberi gelar ratu. Lalu, istanahku untuk apa? Aku robohkan kata-kataku, kertasku masih kosong. 

Aku tidak pernah menghitung puisiku, aku sibuk menutupi menjela, mencegah angin menggerakan tirai kamar berusaha mengintip tulisan sebuah nama dibalik kertas puisiku. 

Tidak akan semudah itu 

Aku menyimpan rapat rahasiaku. Aku menghapus jejakku dalam segala sesuatu perihal nama itu dengan cara menyebar pecahan puisi-puisiku. Berantakan, aku tidak memberi tema yang sama. 

Hari ini aku malas menyapu, kubiarkan serpihan kaca pecahan puisiku tergeletak di lantai kamar. Aku hendak tidur, bangkit dari kursi berjalan ke kasur, kakiku berdarah. Kebanyakan serpihan kaca di kakiku ialah puisi fiktif. Aku mahir dalam hal itu, tapi kini mereka melukaiku. 

Aku butuh kembali menulis, puisi menyembuhkanku. 

Aku masih tahu betul bagaimana dia benci membaca, maka itu membebaskanku untuk menulis. Hingga aku bercita-cita menjadi penulis, mengarang kisahku dengannya, berharap bisa bahagia, berpura-pura tepatnya. 

Aku bercita-cita menjadi penulis, menggenggam kata-kata lalu aku bebas berkisah tentang siapapun, dia, ibunya, ayahnya, kakaknya, ataupun novel-novel kepunyannya. Ternyata masih saja aku terkekang dengan segala perihal dia. Jadi aku tutup rapat cita-citaku agar hanya aku yang tahu 

Aku ingin menjadi apa?
Seseorang yang dia cinta

Sial!
Tulisanku berakhir harapan, lagi. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[AnakManusia; definisi merindukan rumah yang sesungguhnya. Ayok, pulang. Sudah terlalu banyak yang dilalui di sini:]

Rabu, 18 Mei 2022

Fetus


Fetus 

Kudengar doa ibu di balik bilik: "Ampuni kami, Maha Pemilik. Kami yang hanya suci dia Altar tetapi berkoar ria di selasar. Kami yang lapar akan kekayaan dan kenyang akan kemiskinan. Kami yang memaksa bahagia dengan membawa bayi-bayi ke dunia, lalu mendesak mereka supaya datangkan lebih banyak bahagia..

Bapa yang Maha, ampunilah aku
Biarlah semua buruk padaku 
Asal jangan pada anakku." 

Kuketuk rahim ibuku 
Semakin takut dilahirkan 
Namun untuknya yang mengasihiku 
Aku rela; mungkin semua akan sepadan.

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia, Mei 2022:] 

Percakapan Tengah Malam

Percakapan Tengah Malam ☕

Neon kamar: "Ada apa di matanya?"  

Pena: "Cerita." 

Kertas: "Bukan. Dulu memang pernah ada, namun sekarang tidak lagi" 

Neon kamar: "Ada apa?"

Kertas: "Aku juga kurang tahu. Tapi kata kunang-kunang, baru saja ia menyadari bahwa perasaan yang selama ini membuatnya senang, ternyata hanya rasa penasaran terhadap sebuah luka yang akhirnya ia jadikan cerita." 

Kunang-kunang: "Aku mendengarnya merintih di tiap malam saat melewati lorong gelap di tempatku 

Neon kamar:"Jadi, itu sebabnya ia menulis?" 

Pena: "Ya. Itu sebabnya ia menulis. Untuk memulai dan mengakhiri. Untuk hidup di sebuah dunia yang di dalamnya ada dunia baru, tempatnya hidup dan menyala. Tempat itu; harapan." 

Neon kamar "Bukan perasaan?"

Kertas "Ia sudah tidak percaya lagi dengan perasaannya sendiri." 

Singkat cerita ....

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia; dan demikianlah percakapan tengah malam mereka dengan dinding-dinding kamar kost menjadi saksi bisu sebuah kenyataan tentang sang empu yang menempati kamar:] 

Kamar kost, 18 Mei 2021

Selasa, 17 Mei 2022

Demi Metamorfosis Kupu-kupu, Aku Cinta Padamu


Tidak pernah aku menduga akan mengenalimu 
Kau adalah biotik terindah yang kutemui selama perjalanan hidupku
Kau terangi hepar ini dengan sinarmu 
Kau membuat nucleus cintaku ingin bersimbiosis denganmu 

Kau bagaiman bractea yang menarik hatiku tuk datang padamu 
Dari semua bioma yang ada 
Hanya kaulah yang seperti mryaphoda 
Yang memiliki banyak ruas cinta untukku 

Wajahmu akan selalu ku kenang 
Kenangan bersamamu telah merasuk dalam kapiler darahku 
Cintaku akan selalu membelah secara amitosis hanya untukmu
Namamu akan selalu ada dalam ruang kardiakku 

Kehadiranmu seperti bakteriofage bagiku 
Yang telah berada dalam tahap injeksi 
Dan sedang dalam fase perakitan benih-benih cinta 
Sungguh diriku takkan menolak itu 

Kau menumbuhkan dan menguatkan kambium cintaku 
Hati ini serasa krenasi bila tak bertemu dengan dirimu 

Demi metamorfosis kupu-kupu yang indah 
Hati ini berkata, "aku jatuh cinta padamu" 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi Manusia; mohon maaf, semua rangkaian sajak di atas masih belum sempurna, karena yang sempurna hanya dengan Tuhan:] 

📷 : Pinterest 

Senin, 16 Mei 2022

Neraca



Tak terhingga: 
manusia-manusia binasa, 
rasa-rasa kadaluwarsa, 
dan kisah-kisah tak terpecaya. 

Lalu, kita ini apa?
Selain tangan-tangan peminta segala, enggan memberi sedikitnya derma, 
tapi lancang mengaku makhluk mulia 

Lalu, kita ini apa? 
Selain manusia, 
yang ditimbang oleh pahala dan dosa, 
yang terombang-ambing oleh nirwana, 
dan niscaya diantara keduanya. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia, lalu kita ini apa. Selain manusia yang hobinya mengaku makhluk paling mulia!]

📷 : Pinterest 


Kami Bangga Menjadi Perempuan


Saya, kamu, kita (Kami) Bangga menjadi Perempuan 

Kalaulah Adam tidak bergelimang sepi? 
Akankah kami, perempuan akan tetap ada di dunia ini? 
Melahirkan generasi penerus yang siap menghadapi sengitnya pertarungan di bumi
Iriskan sejumlah rasa yang kian hari makin tak terjeruji

Belum lagi fajar datang menyingsing, membangunkan cahaya benderang penuh pesona 
Aku, dia dan semua perempuan penerus Hawa 
Niatkan di sanubari 'tuk menghadiahkan yang terbaik bagi dunia, tapi tak mengapa 
Gemericik air hujan masih membekas di jendela 
Ganggang pintu terkuak perlahan menyusahkan detik kecil hampir tak bersuara 

Aman, mimpinya tak harus sirna di penghujung malam 
Jeritan dan rintihan tak berbunyi datang dari makhluk tak berdosa di ruang kelas kami 
Ahh, kami tidak mau tahu 
Dendam membara seakan memuncak ketika besi teramat tajam mengiris satu persatu makhluk Tuhan 

Inginku bukan, ini untuk mereka 
Pemimpin dan pejuang kelangsungan hidup Bumi Pertiwi 
Ego tak bisa mengalahkan naluri 
Kami yang telah tercipta dari tulang rusukmu, Adam 
Rasa tak adil sekalipun tak pernah terbesit dari relung hati 

Emansipasi, kami punya itu bukan karena merasa tersaingi 
Menjadi pendampingmu yang bisa membantu kalian mengubah dunia juga menjadi prioritas kami 
Pujian, perhatian, dan perlindungan dari kalian akan kami jadikan penggiat mendidik generasi pemberani penerus negeri 

Ukiran senyum mengisyaratkan bahwa kami, perempuan, bangga menjadi makhluk yang kalian muliakan 
Angka bahkan tak mampu memberikan nilainya untuk derajat kami 
Nikmatnya hidup, di telapak kami saja ada surga. Lalu, bagaimana dengan ubun-ubun kami? 

//Fkip. Biologi Kelas A 
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[AnakManusia;dan terjadilah seperti yang telah disabdakannya:] 

Agenda


Wanita makhluk kedua, 
tak terpungkas masa 

Kami bicara, 
kau bilang mengada-ada 

Kami ingin otak di asah, 
kau bilang 'tak usahlah' 

Kami ingin berkarya 
Kau bilang, 'puaskam nafsu pria saja'

Kami hanya tulang rusuk,
Yang harus terus mengangguk 

Sebab feminis divonis agenda, egaliter adalah propaganda belaka, dan pria-pria akan tetap berkuasa. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 16 Mei 2022; ini hanya satire belaka, tak usah dimaknai terlalu serius, walau banyak nyatanya begitu:] 


Sabtu, 14 Mei 2022

Saban Malam

(1) 
Saban malam aku terlantar di teras bibirnya, di mana puisi-puisi dan sajakku terbaca dengan nada air mata yang deras. 

(2)
Saban malam aku tak pernah mengundang sedih, namun dirimu selalu hadir dalam alunan deru angin yang berhembus menjelma rindu. 

(3)
Saban malam yang tamaram aku nanti-nanti hadir di bawa mata mampu. Aku coba ketikkan sebaris puisi di bibirmu, lalu ku ketuk pintu mata agar aku terbaca dari hilang dan heningmu. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 14 Mei 2022;]

Laut Yang Memisah


Laut Yang Memisah 

Sebelum kita pecah di hempas ombak
Kita pernah berhembus kencang di tengah lautan 
Meniup-niup nyiur di tepian pantai
Menggulun ombak menuju ketepian 
Dan pada akhirnya kita hancur secara bersamaan 

Bukan tentang pasir yang indah meraih ombak yang menggulun 
Bukan juga tentang angin yang menerpah runtuh cintanya 
Tapi tentang hati yang tak menyatu dalam kasihnya 

Dan pada akhirnya, 
Kita tenggelam dalam deras arus air 
yang memisahkan dua insan 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi Manusia, 14 Mei 2022:] 



JARUM



Ada jarum-jarum di kepalaku. 
Mengurai jahitan memori sampai yang paling tersembunyi. Mengantar tiap benangnya pada masa-masa ketika semua tak serumit sulaman di benakku. 

Pada senyuman ayah yang mengantarku ke sekolah, pada ciuman ibu yang mendongenkanku sebelum tidur. Pada Senda gurau di atas kasur dengan Kaka-adik yang berisik sesekali terkikik. 

Namun bila kutera, memori itu tak pernah kupelihara--barangkali benang yang sembarang tersasar. Barangkali kenangan orang lain yang kucari, berharap itu adalah punyaku sendiri. 

Ada jarum-jarum di kepalaku. 
Menusuk ke tempurung, membocorkan genang-genang yang tak mau lagi kukurung. Tentang cinta yang buta, prasangka yang mengada-ngada, gegabah yang latah, serta benci yang terperinci.

Basah, mengalir tak tentu arah, membasuhku pada sepertiga malam terakhir, hanya untuk merutuk Tuhan pada malam berikutnya lalu berdoa besok tak perluh bangun kembali. 

Ada jarum-jarum di kepalaku.
Suatu saat, ujung-ujungnya akan menusuk otakku hingga menyusut dan mengerut. Lalu memori-memori itu--yang sah dan yang salah, yang usah dan yang remah, yang betah dan yang gerah--akhirnya meloloskan diri dari kuburku. 

Terserap oleh jabang baru, terhirup oleh napas baru, terendam dalam kepala baru yang nantinya akan di tusuk jarum-jarum baru. 

Sampai saat itu, hidup masih lama, sedang aku masih kepayangan menanggalkan jarum yang kau tinggalkan. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 14 Mei 2022:] 

📷 ; Pinterest 

Jumat, 13 Mei 2022

Kepada-Mu


Kepadamu, pesan ini tidak pernah aku tuliskan sebelumnya dan bibirku yang lebam sebab menyebut rindu kepadamu juga tak mampu untuk mengucap. 

Kepadamu, di atas pilu aku memilih untuk tetap mengakar kuat di jiwamu, tumbuh dan subur untuk menjadi cinta yang satu.

Kapadamu, lagi dan lagi aku tegaskan tak pernah ada nama cinta yang tinggal di matamu, ia tinggal tepat di jiwamu yang tak pernah hilang sebab surut air matamu.

Kepadamu, malam telah berlalu menghembuskan anginnya laut telan berhenti menghempaskan ombaknya. Namun cintaku kepadamu tak pernah berhenti untuk tetap terus menyala.

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi Manusia;]

Kepadamu Doa Ini


Aku persembahkan doa malam ini 
Selepas petang berlalu dengan pelan, aku merayu namamu 
Di sebait puisi telah aku tulis rindu atas dasar dirimu 

Di sela keheningan senja, kau dengan dingin merayap di kepala 
Menggenggam tanganku lalu membawaku dalam anganmu 

Di ujung matamu, aku disandarkan rindu yang menggebu 
Atas dasar namamu aku ingin waktu membawaku berjalan menemuimu 

//Taman Doa Bukit Fatima 
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 13 Mei 2022; kepadamu yang masih menjadi Tuan atas doa disepertiga malamnya:] 

Surat Puisi


Sepotong ayat puisi telah aku tuliskan kepadamu, bahkan terbaca dan terdengar dari kiri kanan telingamu. Aku panjatkan doa-doa yang teraminkan olehmu di waktu malam, namun entah kenapa rindu yang di debar ombak tak jua surut di kedua kelopak matamu. 

Tak kau sebut rindu, namun kau selalu hadir menyelinap dalam pikiranku. Izinkan aku tetap mengirim potongan ayat-ayat puisi di kala rindu itu datang. Aku yang tak sempat mengecup bibirmu dengan hangat akan kugantikan dengan sepotong ayat-ayat puisi yang bisa kau rasakan dalam getaran di keheningan sejenak malam. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Sudut Kampus, 13 Mei 2022; ini hanya deretan kata sederhan yang terlintas begitu saja dalam benak, lalu jemari ini dengan lihai mulai merangkainya:] 

Kamis, 12 Mei 2022

Kita Pada Senja Waktu Itu


KITA 

Kita adalah sepasang mata yang saling melihat, aku ada di matamu dan kau ada di mataku. 

Di bawah teduh matamu
Kita menikmati teduh tanpa kelabu
Dan di atas waktu yang terus berputar 
Kita tetap terang tanpa memudar 

Dan, 
Aku ingin tetap menyala 
Sebab kita adalah api, yang membakar dinginnya diri 

Lalu,
Aku ingin tetap membara 
Sebab kita adalah hangat yang di genggam erat

Dan, 
Di barat matamu itu 
Kita saksikan pulangnya petang ke pangkuan malam 

Dan, 
Di barat mataku itu 
Kita saksikan pulangnya cintamu ke pangkuan rinduku 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi, 12 Mei 2022:]

Sajak Luka


Sajak Luka 

Dari setiap luka, aku mampu merangkainya menjadi kata-kata. Mengolahnya menjadi kalimat dan ku susun kembali menjadi puisi yang khidmat. 

Lalu, kau boleh bacakan dengan lantang setiap luka. Akan ku tahan, akan ku tampung dengan lapang dan akan kurangkai kembali menjadi sebuah puisi. Lalu, kau boleh untuk membacanya lagi. 

Jika kau bertanya, "apa makna luka?" Maka akan ku jawab, "luka adalah senjata untuk melawan mereka yang lupa akan bahagia" maka kau akan terenyuh mendengar kata-kata ku. Dan, disitulah aku mampu menjamah hatimu dengan luka dari puisi itu. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 12 Mei 2022;mohon maaf ftonya sangat tdk bersahabat:] 

Rabu, 11 Mei 2022

Surat Untuk Ema


Surat untuk Ema 

Ema, 
Kalaulah naluriku belum melata 
jangan sepak diriku ke belantara 
dan tolak aku kembali kala terlunta

Ema, 
Sebab dunia luar bukan buaianmu 
dan sayapku tak utuh dari kelambu
Biarkan aku mengadu, tatkala semua tak sanggup kuampu 

Ema, 
Tetaplah menjadi rumah 
yang tak pernah goyah 
sekalipun aku ingin enyah jadi entah 

//MataDolorosa
#GadisAksara_☕

[Bumi, 11 Mei 2022:]

Singkat Kata-Nya


Sajak menggantung di kepalaku seperti jemuran kata-kata yang tersiangi bintang dan membiarkan kaki-kaki mekar berjalan, dituntun hangatnya tangan 

Kata Ayah, "Dia tumbuh bersamaku"

Lalu sajak minggat dari kepalaku, seperti cucian rasa-rasa lampau yang sudah kering terperas. Tapi, kuberikan satu anggukan akhir sampai mereka terbawa angin, hilang.  susuli bintang, seiring rasa mengerut, 
seiring nisbi mengerucut, 
seiring aku kembali kuncup 

Kata Ayah, "Dewasa memang teka-teki"

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi, 11 Mei 2022; sepenggal ingatan kala sempat berbincang singkat dengannya pada petang menjemput rembulan:] 

Nostalgia


Ada pagi yang selalu kuingat lekat sepanjang jalan setapak menuju gereja. Kala embun masih belia: 'tempat kami berjalan dan menambat permohonan. Tempat tangan kecilku menggapai memegang ayahku, tempat kaki remajaku berlari, mengejar adik kecilku, tempat orang-orang berdoa selagi aku hampir lupa caranya' 

"Tuhan mengapa manusia bersikeras bahagia?" 

Kini, usai senyap menjauh, kuceritakan pada langit-langit; tentang isakkan yang gemercik dalam angan terjaga. 
Pelataran gereja di Kota Tua itu masih sama, mengajakku berpulang ke: 
'tempat lututku bersimpuh di bawa teduh. Tempat lenganku bebas, tak lagi kebas. Tempat kakiku mengejar sisa-sisa pijar, tempat doa-doa menguara bersama silam terbakar. Tapi, tertambat di benak, di dongeng anak, di sajak-sajak' 

"Tuhan, barulah dalam rengkuh-Mu, kami bisa bahagia." 

//Larantuka Kota Tua 
//Gereja Katedral Renha Rosari Larantuka 

#GadisAksara_☕

[Bumi, 11 Mei 2022; rumah, tempat berpulang paling nyaman. Biar kaki memijak di tanah rantau, tapi Hati masih mengukuh pada Nagi Tanah:] 

Selasa, 10 Mei 2022

Hanya Pernah


Aku pernah ingin berhenti; tidak hanya sekali tapi berkali-kali

Aku pernah ingin berhenti, meniadakanmu dari kepalaku, tapi kau seolah tak ingin beranjak. Justru semakin menetap, bahkan lebih lama dari yang seharusnya 

Aku pernah ingin berhenti, meniadakanmu dalam setiap kata yang kueja dengan rasa rindu, tapi aku selalu gagal. Denganmu rindu itu selalu bertambah, bahkan ketika aku kehilangan kata untuk nengungkapkannya. 

Aku pernah ingin berhenti, mulai membangun ruang kosong dalam dadaku. Ruang yang sengaka kupersiapkan untuk kuhini sendiri atau bersama seseorang yang kelak akan datang setelahmu. 
Tapi, lagi dan lagi aku gagal. Sebelum aku bergerak kau sudah memenuhi setiap sudut dan ruang di dalam dadaku, kadang hatiku berdebar saat aku sedang tak ingin merasakan apa-apa 

Pada akhirnya, seluruh usaha hanya berakhir sebatas pernah dari waktu ke waktu. Aku menemukan diriku jatuh pada perasaan yang sama, tidak ada yang berubah bahkan setalah tak terhitung berapa banyaknya luka dan rasa sakit yang bersemayam di dadaku. 

//Pria Kuno dalam sajak 🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 10 Mei 2022:]

Senin, 09 Mei 2022

Aksara


Sebelumnya saya minta maaf karena selalu menjadikanmu objek dari puisi-puisi yang saya tulis. 

Sungguh, bukan dengan maksud tertentu saya melakukan itu. 

Ketahuilah ketika saya melihat sepasang matamu, degub jantung ini memompa terlalu cepat hingga membuat lidah ini keluh tak bergerak. 

Memang saya akui ; saya hanyalah seorang pecundang, yang tak sanggup menyuarakan semua rasa dan asa yang menggelayut pelan. 

Bukan tak mau, bukan 

Saya hanya tak mampu mengungkapkannya saja. Maka dari itu, izinkan saya untuk mencintaimu dengan cara yang saya cinta -- melalui aksara 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 09 Mei 2022:] 

Minggu, 08 Mei 2022

Kopi Rindu


Secangkir kopi sudah saya sediakan sedari tadi, namun sang empunya tidak kunjung menghampiri 
Ampasnya perlahan turun ke dasar 
Uap kelapu pun mengepul berserakan 

Di mana kamu yang selama ini selalu bertamu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? 

Pulanglah, Tuan! 

Saya masih menunggu kamu, di beranda harap depan rumah. Karena ada satu hal yang ingin saya ungkapkan kepada kamu; 

"Bahwasanya saya Sungguh Merindukan Kamu." 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 08 Mei 2022; Pulanglah, Tuan. Di sini selalu ada tempat untuk kamu berteduh.] 

Salah Masuk Jurusan Kah!?

;Sedikit refleksi 
Seperti biasa, banyak sekali lontaran-lontaran yang sudah sangat akrab saya dengar dari beberapa kenalan, teman, keluarga, juga guru-guru di almamater saya. 

Mereka selalu berkata hal yang sama , "Nona/Nova/Nopa ternyata bukan di jurusan bahasa ee. Saya kira di jurusan bahasa, soalnya suka menulis. Apakah tdk salah masuk jurusan?" 

Rebuah pertanyaan juga pernyataan yang tepat sasaran namun di sini saya pribadi merasa "ahhh saya tidak salah masuk jurusan. Kalaupun salah yaa hanya bisa menikmati dan menjalani saja yang sekarang🤭😁." 

Sebenarnya di sini bukan mereka yang salah ataupun saya yang salah masuk jurusan. Tapi di sini hanya perihal kita saja yang tidak begitu saling mengenal. Untuk menulis puisi dan sebaginya, saya memang orangnya suka menulis sudah sejak SD. Hanya menulisnya di buku, bukunya juga masih ada 🤭, tapi di rumah tdk saya bawa ke kost karena tulisannya sangat indah membuat semua netra yang melihat memancarkan/mengalirkan kristal bening (menangis) 😌. 

Setelah lulus sd, saya juga masih aktif menulis semasa di bangku SMP. Dan masih sama saya menulisnya di buku. Bukunya juga masih ada dan saya simpan di rumah yaa tidak saya bawa, kalau bawa semua itu namanya saya mau pindah hati (biarkan yang su berlalu, tetap tinggal di tempat terbaiknya selain hati:).  

Dari awalnya yang mungkin tulisannya sangat hancurr dan absurd setidaknya waktu SMP saya mulai menulis yang lebih hancur lagi lah dari masa sd. Tentunya isi dari tulisan-tulisan itu tidak terlepas dari cinta, persahabatan, juga bahkan tentang kehidupan yang saya jalani, suka dan dukanya ketika saya merasa atau tidak suka dengan sesuata maka saya akan menulisnya. Saya kira itu labil sekali yaa, tapi mau bagaimanapun semua orang pasti pernah mengalaminya. Sebut saja menulis di buku harian mereka. 

SMA kelas XI, saya mulai aktif di Facebook, berteman dengan lumayan banyak kenalan dari luar NTT yang menggunakan akun fake mereka (atau kalau dalam dunia literasi Facebook nama itu namanya 'akun literasi'). Saya juga sempat membuat akun literasi (fake) kalau ada yang kepo boleh langsung cari saja namanya 'Sava Savanya' entah itu saya mendapat roh kuda dari mana sehingga namanya menjadi seperti itu. Tetapi dari akun itu saya merasa memiliki keluarga di dunia Maya. Saya merasa sebagian masa remaja saya itu yaa bersama mereka. Lebih aktif mengikuti berbagai event maupun sekedar berbagi karya di grup-gruo literasi Facebook. 

Saya punya satu keluarga online pertama, awalnya saya juga tidak tau menau saat ditambakan ke grup chat dan ternyata itu yang dinamakan keluarga online. Saya merasa nyaman berada dengan mereka, walau kami hanya berbincang lewat dunia maya (virtual) tanpa pernah bertemu. Saya mungkin satu-satunya orang Timur juga non muslim di situ. Tapi cinta dan kebersamaan kami itu tidak pernah memandang suku,ras, dan agama. Saya mengenal mereka sejak tahun 2019 sebelum Corona menyerang dan sampai sekarang hubungan saya dengan beberapa dari mereka masih sangat akrab dan baik.  Hanya beberapa karena beberapa yang lain ada yang Hiatus dari Facebook ada juga kaka² yang sudah masuk pesantren jadi komunikasinya semakin renggang. 

Dan pada akhirnya saya sampai pada titik sekarang, semakin gencar menulis. Puji Tuhan sudah punya 3 anak sendiri (Buku Solo), juga 2 anak bersama (Buku Antologi bersama)😌, usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Perjalanan saya sangat panjang dalam menulis , sedangkan dalam dunia pendidikan yang sedang saya jalani sekarang ini, adalah sebuah pencarian jati diri yang sebenarnya. Dari puisi, dari pendidikan di bangku perguruan tinggi, dari pengalaman juga saya mencari jati diri saya. 

Jadi untuk yang sering bertanya-tanya atau berpikir apakah saya tidak salah masuk jurusan. Terimakasih dari kalimat kalian itu saya tahu bahwa kalian menyayangi saya. Luffyuuu sekebonn beserta isinya🤭❤️❤️🥺🥺

Puisi adalah jiwa bagi saya 
Biologi adalah hidup 

Puisilah yang hidup di dalam Biologi 
Bukan Biologi yang hidup di dalam Puisi 

Ini sedikit refleksi yang pandangan dari saya, entah dari saudara/i bagaimana yang penting, kita sama-sama belajar 🤗🤗

Tuhan sayang 😇🙏🙌✨☕🥀

#GadisAksara_☕

Mawar Terakhir


Untuk sementara biarkan seperti ini dulu, yaa? 
Izinkan saya terus menyimpan namamu di dalam hati. 
Mengingat segala perihal kenangan yang takkan pernah mati. 
Bertahan mencintaimu meski saya tahu kamu sudah memilih untuk menjauh pergi. 

Walaupun saya terus merindu pelukmu,
Namun kamu tak pernah ingin bertamu.
Tidak apa-apa, sebab saya telah mematri kamu 
Pada setiap larik kisah yang saya buat 

Dulu, saya pernah mencoba mengganti 'kamu' menjadi 'dia'
Namun hasilnya tidaklah begitu bagus 
Jadi saat memutuskan untuk terus menyebut 'kamu' 
Entah sampai kapan, saya tidak dapat memastikan. 

Saya sudah terbiasa sendiri, sejak kamu menepis saya dari kehidupanmu 
Pada satu hari sebelumnya, kamu datang mengirimkan hadiah yang saya suka -- mawar putih. 
Dan kamu dengan perlahan mendekat mengecup kening saya ini 

Saya tidak sadar, bahwa kecupan dan mawar putih itu adalah tanda perpisahan darimu untuk saya..
Meskipun begitu, baik adanya saya masih terus menyayangimu walau dalam diam yang hanya bisa saya rasakan seorang diri 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 08 Mei 2022:]

Kamis, 05 Mei 2022

Maaf dan Doa


Maaf untuk doa-doa yang masih diam-diam meminta kau kembali, membawa tubuhku ke dalam pelukanmu 
Maaf untuk doa-doa yang diam-diam masih meminta kau kembali, pada perasaanmu yang mencintaiku 

Maaf untuk doa-doa yang masih dengan lirih menyebut namamu dalam semoga yang kuakhiri dengan amin 
Maaf untuk doa yang masih menginginkan kita ada, kembali satu meskipun kini kau berdua. 

Aku tahu tidak ada doa yang salah, namun melibatkanmu dalam setiap semoga adalah hal yang mungkin tidak bisa kauterima 
Maafkan hatiku, juga doaku yang masih menyimpan harapan setelah kau pergi dari hidupku 

Jika kau tidak bisa lagi memaklumi perasaanku, silakan berdoa, rayu Tuhan, minta padanya agar aku berhenti mencintaimu. 

//Pria Kuno dalam Sajak 🍂
#GadisAksara_☕

[Penfui, 05 Mei 2022; Maaf karena hanya mampu mengucapkan maaf lewat rangkaian kata ini:]