|•🦋•| Catatan Perempuan; Ganjil yang Genap
Kisah dari buku lama tentangmu akan dikulik, sebagaimana puisi-puisi ini dikritik, agar alur tentang kita tak jadi seperti ilusi optik. Nona yang buananya pernah sedingin Antartika, perlahan menjadi sehangat Asia. Mereka bilang berubah, nyatanya kuning pada ladang gandum menjelaskan segala perihal, mereka tak pernah benar-benar mengenal.
Tujuh Juni hadir kembali—untuk yang ke dua puluh satu kali, mendatangi wanita tangguh di pertengahan runtuh. Menyapa sang pemilik hari, melafalkan harap akan tawa yang sudah terkubur elegi. Ia bahkan rela menunda waktu lelap, hanya untuk sekedar menyambut hari ganjil yang genap.
Tulisan ini mungkin tidak akan begitu berkesan, bahkan cenderung membosankan, tapi percayalah! banyak doa yang diam-diam kuselipkan. Tentang kuat yang kupinta mengiringimu di setiap kali semesta berlaku jahat, pula tabah agar membalut hatimu setiap saat.
Kemarin duniamu sudah begitu pelik, kali ini bersinarlah dengan terik. Sejenak, tulikan dahulu hati serta telingamu pada hal-hal yang menusuk, supaya lenganmu 'tak lagi jadi korban atas duka yang memeluk. Sesekali, cobalah abai, jangan lagi biarkan rinai berderai, karena mereka memang teramat lihai perihal mencuri kesempatan, menyelundup, lalu menikam tanpa belas kasihan.
Setelah ini, terlelaplah! Esok, suguhkan sabit pada baskara yang menyapa harimu dengan malu-malu. Kemudian ia akan berkata 'Selamat mengulang tujuh juni, Ge! Selamat bahagia, tanpa pura-pura, dan bukan untuk menutup luka.'
[Kepada Diri Sendiri—Selamat Merayakan Usia, Genoveva🌹🦋]
• • •
#GadisAksara_☕
Juni, hari ketujuh 2024