Senin, 13 Oktober 2025

The Pyre and The Flames That Burn the Truth


|•🦋•| Catatan Perempuan 

The Pyre and The Flames That Burn the Truth

Wanita Berwajah Duka bersimpuh di tengah gigil yang menggetarkan tubuhnya. Dengan suara serak serupa ranting-ranting yang patah terinjak, ia berseru, “Eli... Eli... lama sabachthani!”

Ratapannya persis Tuhan Anak ketika disalibkan di Golgota seusai Perjamuan Terakhir. Hanya saja, tak seperti Tuhan Anak yang tubuhnya mati namun roh-Nya hidup, jiwa Wanita Berwajah Duka justru telah mati dalam tubuh yang hidup. Dan tak seperti Tuhan Anak yang bangkit pada hari ketiga kematiannya, jiwa Wanita Berwajah Duka telah mati selama-lamanya.

Malam-malam di sel bawah tanah adalah mimpi buruk yang terbuat dari kelembapan, anyir darah, dan rantai yang dingin menggigit kulit. Tikus-tikus berlari di sudut, memakan sisa-sisa daging yang mengering di bilah cambuk.

Ia tidak sendiri. Ada nyawa-nyawa lain yang direnggut dari tempat tidur mereka di tengah malam, dituduh menyusui iblis, meracuni sumur, atau memanggil hujan badai di musim panen. Mayoritas perempuan. Beberapa masih gadis belia.

Ia tahu mengapa dirinya ada di sini. Bukan sebab sihir, bukan pula karena ramuan-ramuan herbal yang ia berikan kepada penduduk desa yang demam membuat mereka lebih sakit. Melainkan karena ketamakan.

“Dia ingin tanahmu.” Suara gemetar seorang wanita tua di sudut sel terdengar lirih. “Baron Edric ingin tanahmu.”

Ia menunduk, tangannya yang lebam mencengkeram jeruji besi. Tentu saja dia tahu. Keparat itu datang padanya beberapa waktu yang lalu untuk menawar tanah keluarganya. Dan rupanya Baron membuktikan ia jauh lebih keparat lagi. 

“Mereka benar-benar bisa membuat iblis dari siapa saja.”

Keesokan harinya, pengadilan diadakan di alun-alun. Lebih mirip pertunjukan daripada persidangan. Mereka berkumpul, bersorak riuh seperti burung pemakan bangkai yang menunggu pesta mereka dimulai.

Di tengah lingkaran manusia, Wanita Berwajah Duka berdiri dengan kaki terikat rantai. Pakaiannya compang-camping, rambut panjangnya kusut dan lengket oleh darah dari luka di pelipisnya. Namun yang lebih mengerikan dari luka-luka di tubuhnya adalah massa yang bersorak, berlomba-lomba mempersembahkan kebohongan seolah sosok yang mereka teriaki, bahkan diri mereka sendiri bukan manusia, melainkan binatang buas.

“Ia merapal mantra di malam purnama!”

“Ia membuat bayi-bayi kami mati dalam kandungan!”

“Ia berbicara dengan burung gagak!”

Pendeta desa mengangkat salib peraknya. “Bertobatlah, maka Tuhan akan mengampunimu.”

Ia tertawa getir, pecah seperti kaca yang terinjak. Ia tahu sang pendeta adalah bagian dari rencana kotor Baron.

“Bertobat? Untuk dosa yang tidak kulakukan?” ia mendongak, matanya yang cekung menatap sang pendeta tajam. “Kau tahu aku tak bersalah, tapi kau ingin aku mengakui kebohongan ini agar hatimu merasa lebih ringan? Kupikir kau yang seharusnya bertobat jika kau tidak ingin mematahkan salibmu.”

Rahang sang pendeta mengeras, tetapi ia diam belaka. Baron Edric menyela, mencondongkan tubuhnya ke depan, “Kau selalu banyak bicara.”

Ia menyeringai kecil sebelum meludah ke tanah. “Dan kau selalu pengecut, Baron.”

___

Langit kelabu, tanah basah oleh hujan semalam. Tiang eksekusi telah siap, tali di pergelangan tangannya menjerat seakan ingin meremukkan tulang. Baron Edric berdiri di depan massa, obor di tangannya menyala dengan gemilang, mencerminkan sesuatu yang nyaris seperti kebanggaan.

“Lihat dirimu, menyedihkan seperti tikus kotor.” Lelaki itu menatapnya tajam lantas menyeringai, “Rupanya kau tak seberani saat menolak tawaranku dulu.”

Tapi Wanita Berwajah Duka mencemooh. “Kau pikir aku takut mati?” bisiknya, nyaris terdengar hanya oleh dirinya sendiri.

Sungguh ia menyadari, yang menakutkan bukanlah api yang siap melahapnya, bukan deru suara massa yang haus darah, melainkan kenyataan bahwa hal ini akan terus berulang. Hari ini ia yang dituduh penyihir, esok akan ada yang lain. Mereka yang melempar batu hari ini, mungkin akan berdiri di tiang yang sama di lain waktu.

“Kau yang seharusnya takut ketika mereka mengetahui hal busuk apa yang kau sembunyikan.”

Baron Edric terkekeh. “Orang-orang tidak peduli alasan sebenarnya. Mereka hanya butuh seseorang untuk dibakar. Jadi selamat menikmati nerakamu.”

Sebuah tangan kasar menekan kepalanya ke belakang, memaksanya menatap ke atas. Langit berwarna kelabu kelam, serupa apa yang terjadi di bawah naungannya.

Baron membuang obor ke tumpukan kayu bakar, menyalakan api yang perlahan menjilati kulitnya. Asap tebak membumbung ke udara mengaburkan pandangan. Namun alih-alih rasa panas, Wanita Berwajah Duka justru menggigil. Dan di tengah gigil yang menggetarkan tubuhnya, dengan suara serak serupa ranting-ranting yang patah terinjak, ia berseru, “Eli... Eli... lama sabachthani!”

• • • 
#GadisAksara_☕ 

Oktober, 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

23👑🎂— Renungan & Refleksi 🌹🤎🦋

|•🦋•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru Hari ini aku berulang tahun ke-23.   Hari ini Gerej...