Kita mengeluh bagaimana matahari membakar kulit kita, namun tidak pernah mengingat bagaimana kita membakar para akar jantung dunia.
Seenak jidat, bahkan hanya menyalahkan dunia. Kita saling menunjuk, tanpa melihat berapa jari mengarah pada kita.
Bumi kita buat menangis, kita pisahkan juga akar-akar dari tempat tidur tanah mereka. Membuang sampah sembarangan, namun saat diingat malah menunjukkan wajah merah padam.
Bumi berdarah, tapi kita hanya terus menorehkan luka tanpa membalutnya.
Kian hari kian berdarah, mungkin karena itu matahari kian membakar tulang belulang kita. Mungkin semua itu sebagai pengingat ; bahwa kita terlalu banyak merusak bumi.
Bumi manusia ini sudah penuh, bahkan menjadi ladang bertumpahnya darah dan air mata.
Bumi menjadi lahan menampung keladi.
Tak berdosa namun menanggung derita.
[Selamat Hari Bumi ; Sudahkah kita sadar dengan apa yang kita perbuat!?. Sudahkah kita menjaga Ibu Kita ini!?. Untuk itu, mari kita menjaga Ibu kita dan memulainya dari tindakan-tindakan kecil:]
//GadisAksara_☕
Bumi, 22 April 2022
๐
BalasHapus