|•π¦•| Catatan Perempuan; Pria Kuno dalam Sajak
Aku mengenalmu sebagaimana semesta saling berkonspirasi mengenalkan kita. Diam-diam menyiapkan pertemuan paling tak sangka. Dititipkannya kepada sulur-sulur kepala enggan lupa. Percakapan pertama, diingatanku yang lemah, dua ribu dua puluh.
Lelucon kerap kali menyihir kita hingga betah di malam-malam paling larut. Mengundang gelak tawa, kadang pula kenangan runut. Liris-liris manis yang membawa kau dan aku berkemas romantis. Kita menggelar purnama, lalu membongkar celengan rindu sebanyak ia disimpan berlama-lama.
Tak ada yang biasa-biasa saja denganmu. Kau mengajakku ke dalam lautan kata-kata, lantas melebur di sana. Betapa tiada tenggelam paling damai selainnya. Kau mengajakku berdansa bersama, bukan hanya menari seorang diri. Betapa aku sudi menikmati seluruh melodi itu tanpa batas henti.
Aku jelas mengasihimu, lebih banyak dari kau mengasihiku, atau mungkin lebih sedikit dari itu. Rasa kasih serupa ketika aku berniat mengajakmu mengelilingi angkasa. Menyaru konstelasi di antara galaksi, atau hanya sekadar kekunoan di antara mitologi-mitologi yang selalu kau ceritakan.
Inilah maksudku—tak ada yang biasa-biasa saja perihal kau. Tak pernah. Sebab kau mampu memecahkan kerianganku yang enggan. Kau menanggalkan kesedihan-kesedihan hanya dengan mantra tak terkata. Aku bahkan tak percaya bahwa eksistensimu sama saja dengan virus—menyebar cepat, luas, dan berlangsung terus-menerus.
Rasa penuh sukacita ini selalu memeluk dadaku sejak kali pertama kita berbagi ruang bicara. Telah dibiasakan menunggu demi menyuap rindu-rindu. Telah dibiasakan dengan pikir-pikir aneh sekaligus menakjubkan dalam satu waktu. Sekali lagi, aku telah terbiasa, atas segala hal yang tak biasa-biasa saja, hanya karena itu kau, Tuan.
• • •
//Pria Kuno dalam Sajak π
#GadisAksara_☕
November, 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar