Ada pagi yang selalu kuingat lekat sepanjang jalan setapak menuju gereja. Kala embun masih belia: 'tempat kami berjalan dan menambat permohonan. Tempat tangan kecilku menggapai memegang ayahku, tempat kaki remajaku berlari, mengejar adik kecilku, tempat orang-orang berdoa selagi aku hampir lupa caranya'
"Tuhan mengapa manusia bersikeras bahagia?"
Kini, usai senyap menjauh, kuceritakan pada langit-langit; tentang isakkan yang gemercik dalam angan terjaga.
Pelataran gereja di Kota Tua itu masih sama, mengajakku berpulang ke:
'tempat lututku bersimpuh di bawa teduh. Tempat lenganku bebas, tak lagi kebas. Tempat kakiku mengejar sisa-sisa pijar, tempat doa-doa menguara bersama silam terbakar. Tapi, tertambat di benak, di dongeng anak, di sajak-sajak'
"Tuhan, barulah dalam rengkuh-Mu, kami bisa bahagia."
//Larantuka Kota Tua
//Gereja Katedral Renha Rosari Larantuka
#GadisAksara_☕
[Bumi, 11 Mei 2022; rumah, tempat berpulang paling nyaman. Biar kaki memijak di tanah rantau, tapi Hati masih mengukuh pada Nagi Tanah:]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar