Sabtu, 18 November 2023

Semua Kamu Dirayakan


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan; Semua Kamu Dirayakan 

Kepada aku dan kamu yang sudah, sedang, dan belum dirayakan. Tulisan ini hadir kembali dariku, sebagai perayaan besar-besaran.

Dalam tulisan ini, ada lima pasal yang mesti kamu ketahui. 

Pertama, terima kasih banyak karena sudah berdiri hingga detik ini, hingga lagi-lagi membaca tulisan pendekku untuk kamu. Terima kasih sudah menjaga diri dan kesehatan. Terima kasih sudah dan terus bertahan. Terima kasih karena tidak ditumbangkan masalah serta keadaan. Terima kasih sudah menjalani hari-hari dengan baik meski sesekali tercekik. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Serta terima kasih karena sudah memberiku kesempatan merayakanmu.

Kedua, lagi-lagi, jangan keras pada diri sendiri. Makan ketika lapar. Minum ketika haus. Tidur ketika mengantuk. Obati apa yang luka. Hindari apa yang membuat sakit dan tidak nyaman. Menangislah untuk lega. Mengeluhlah saat dirasa perlu. Ceritakan ceritamu. Sesekali egoislah dan tidak perlu jadi orang tidak enakan. Berkata tidaklah pada hal yang mengganggu. Menjauhlah dari hal-hal tidak aman. Tidak harus selalu pura-pura. Tidak harus selalu kuat. Ingat untuk benar-benar beristirahat ketika lelah meski sedang ditumpuk masalah dan kesibukan. Jangan lupakan love yourself setiap hari, dan mengangkat sudut bibir paling tidak sekali dalam sehari.

Ketiga, tidak perlu berkecil hati untuk segala hal yang tidak kamu capai dan yang tidak kamu dapati. Cukup lakukan yang terbaik dan yakinkan dirimu bahwa apa pun hasilnya adalah hal yang tak menyurutkan bahagia. Sebab segala gagalmu, segala burukmu, segala rumpangmu, segala putus asamu, segala ketidakberdayaanmu, segala jatuhmu, segala hitammu, segala kurangmu; sudah sepatutnya diapresiasi. Sebab untuk segalamu, aku akan senantiasa merayakannya. 

Keempat, cintai diri sendiri. Hargai ia, sayangi ia, pedulikan ia, kuatkan ia, semangati ia, doakan ia, apresiasi ia, bahkan rayakan ia. Lakukan hal itu sebelum aku yang melakukannya untukmu. Semua harus dimulai lebih dulu dari diri sendiri, bukan? Maka dari itu aku katakan di paragraf sebelumnya untuk tak berkecil hati. Tidak berkecil hati jika belum menemukan seseorang yang sangat mencintai dan dapat merayakanmu. Rayakan dulu dirimu sendiri. Setelahnya, ada aku yang juga merayakanmu. 

Kelima, sebagai orang yang sedang merayakanmu, aku ingin tahu segala hal perihalmu. Apa saja makanan dan minuman yang kamu sukai. Apa saja yang menjadi favoritmu. Hobi apa yang paling kamu gemari. Lagu apa yang paling sering kamu ulangi. Apakah kamu suka langit dan senja atau tidak. Bagaimana caramu tersenyum dan tertawa. Bagaimana kamu menangis dan bercerita. Dan banyak lagi. Segalanya. Nanti kuceritakan juga pada semesta bagaimana kamu sudah begitu tangguh menantang dunia. Makanya, kuharap kamu dapat tersenyum dan berbahagia ketika membaca ini. Sebab aku tengah benar-benar merayakanmu. Sampai-sampai aku ingin bersyukur berulang kali pada Tuhan karena sangat berbaik hati memperkenanmu lahir di bumi.

Kepada aku dan kamu yang sudah, sedang, dan belum dirayakan. Detik ini juga semua kamu kurayakan, sebab kamu amat pantas dirayakan. Pula semoga, suatu saat nanti di waktu pasti, seseorang datang dan merayakan semua kamu dengan sebenar-benarnya perayaan.

[Dari seseorang yang merayakan dirinya sendiri, juga merayakan kamu—gn<3va๐Ÿ•Š️.]

• • • 
#GadisAksara_☕ 

November, 2023

Minggu, 12 November 2023

Surat Kecil Untuk Ayah


|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan: Surat Kecil Untuk Ayah

Ayah, aku tahu terkadang bahumu payah. Gurat-gurat nampak sekali tanda kau lelah. Menahan di pembaringan agar kau tidak goyah. Beradu dengan riuhnya isi kepala, perihal kemarin dan esok yang susah.

Saat semua netra telah terlelap, kau memupuk asa agar tak kalap apalagi berhenti berharap. Bertanya pada malam dengan hening yang tak henti menatap, tentang apa-apa saja agar sekiranya kau tak sekarat.

Aku seringkali mendengarmu lantunkan doa yang paling tulus adanya. Kian hari makin menjadi saja aku rasa. Acapkali pun tangis kau hadiahi atas aduanmu pada sang Kuasa. Kembali sadar juga, kau merengkuh buah hati yang satu persatu terlelap dengan mimpinya tentang ayah bunda.

Ayah, kau tahu betul aku ini ringkih. Maaf jika untaian diksi ini seluruhnya hanya terlihat pedih untuk kau baca seorang diri. Namun, percayalah, sosok dan kisahmu tak akan tersisih sebab kau jelas obat yang sangat berfungsi.

Sendu ini berebut hadir dengan tak tahu malu. Kuusir satu-satu agar mereka tak mengganggu semua waktu. Pemikiran ini aku tahu masih sangat kolot untuk dikaji sebab masih ada harap yang bertalu.

Ayah, aku hilang arah. Akupun ingin pulang menuju rumah yang menjadi saksi semua suka yang membuncah. Aku kian merasa hambar untuk sekedar merasa tabah. Kepala dan isinya sudah terlalu penuh dan inginnya punah. Otak dan hatinya kian tak menemui korelasi sebab didekap gundah dan kesah.

Ayah, ini surat yang aku tulis dengan perasaan berat. Sedikit lagi saja aku berdebat dengan semua kata yang sangat lekat, aku mungkin sekarat, sebab ini masih perihal rindu yang membuat sesat. Meski tahu setelah ini akan ada tawa jahat, sudah seharusnya hati berfungsi agar ia kembali kuat.

Happy Father Day—Bapak Aloysius A. Matutina ❤️

• • • 
#GadisAksara_☕ 

November, 2023


23๐Ÿ‘‘๐ŸŽ‚— Renungan & Refleksi ๐ŸŒน๐ŸคŽ๐Ÿฆ‹

|•๐Ÿฆ‹•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru Hari ini aku berulang tahun ke-23.   Hari ini Gerej...