Kamis, 30 Juni 2022

Eunoia


Eunoia

Hai, Juni
Habis sudah bulanmu dengan bisu 
Tentang hujan yang datang menabuh rindu 
Tentang angin yang merayu pucuk-pucuk daun di sudut sunyi 

Ada banyak kata yang ingin kutuliskam padamu 
Tentang siang yg mendung
Dan kudapati seorang perempuan menguntai air mata yang berderai 

Ia adalah perempuan hujan 
Dengan raut yang mendung ia merajut tangis dengan senyum 
Ia anggun dusun di tubuh perkotaan 
Juga rembulan yang mengambang di dada

Perempuan Hujan 
Jiwanya mungkin akan padam oleh waktu 
Tetapi cintanya akan terus berbunyi 
Sepanjang usia puisi ini 
Selamanya meski derai air matanya surut bersama hadirnya pelangi 

Teruntuk Juni 
Semoga tak kunjung semu 
Untuk semua temaram dalam mimpi 
Untuk semua bencana yang bertamu 
Semoga tak lebih asing lagi 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia, Semoga Tak Lebih Asing Lagi:]

Larantuka, 30 Juni 2022



Rabu, 29 Juni 2022

Kasih-Ku

Kasih-Ku 

Aku tak cukup nyali menggandrungi sajak-sajak anggunmu
Atau sekadar membaca seba'it sastra yang lahir dari rahim penamu 
Ia serupa pijar nayanika, berlabur gelinggam namun mematikan 

Aku seperti mati berkali-kali, menekuri aksara mati yang senyatanya sewarna ambigu terdapat di bilik semu. 
Bukan hendak mengelak dari sekecup wangimu 
Di sudut sadar aku terkapar 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

Larantuka, 29 Juni 2022

Selasa, 28 Juni 2022

Surat Yang Tak Pernah Sampai


Surat Yang Tak Pernah Sampai 

~Untuk Sang Pematah Hati~

Sudah lama rasanya saya tidak mengirimkan lembaran rindu ini kepadamu. Mungkin satu tahun, ya? Atau lebih? Ah sudahlah, yang penting saya tahu kamu baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup. 

Mungkin ini surat terakhir yang akan saya kirimkan kepadamu. Entah, surat ini akan sama nasibnya dengan yang lain -- tercecer berserakan. 

Sebenarnya dari dulu saya ingin menanyakan kepadanya tentang beberapa hal; 

Yang Pertama, mengapa kamu berubah? 

Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini masih terpatri dalam pikiran. Bukan karena susah, tapi kamu tidak memberikan jawaban, hingga saya harus menganak kesekian kalinya pada ketidakpastian. 

Yang Kedua, mengapa kamu diam ketika melihat saya?

Ingin sekali saya melontarkan kalimat di atas kepala kamu. Ah, saya paham mungkin kamu ingin bermain tebak-rebakkan terlebih dahulu. Baiklah saya akan terima itu. 

Dan Terakhir, mengapa kamu tidak bisa sebentar saya membaca suratku ini? 

Mungkin surat ini terlalu lancang, karena jujur saja saya memang ingin kamu tahu. Saya tidak akan memaksa kamu membaca surat dari perempuan sederhana seperti saya. Hanya tetaplah diam, selagi saya menikmati senyummu dari jauh. Tetap di sana, jangan kemana-mana.

Saya terlalu lelah mempertahkan kamu, apa tidak bisa kamu sekali saja bersikap (seolah) menerima kehadiran saya? 
Saya kini sudah terbiasa sendiri semenjak kepergianmu, jangan risaukan saya. Tersenyumlah dengan bahagiamu. Seperti yang pernah saya bilang "bahagiamu, bahagiaku juga" 

Mungkin surat ini terlalu panjang, baiklah saya akan menyudahinya. Semoga kamu membaca, dan bohong jika saya tidak berharap akan itu. 

Namun ketahuilah, saya tidak berharap kamu akan membalasnya. Karena sepertinya itu merupakan suatu hal yang mustahil akan terjadi. 

                            
                                                       Tertanda,

                                              GadisAksara_☕

Jumat, 17 Juni 2022

Sekadar Nostalgia

Beberapa momen yang perlu saya abadikan di sini. 

Sedikit saja berkisah tentang mereka-mereka ini yang rasanya sudah begitu jauh saya gapai untuk memeluk. Sebenarnya saya yang semakin jauh dari mereka. Saya akui itu, dan saya sendiri merasakan itu sejak duduk di bangku kelas VIII. Saya yang perlahan menutup diri untuk bisa berbincang bersama mereka. Memilih lebih banyak berada di rumah......Mau berbicara tentang mereka terlalu banyak yang ingin saya ceritakan, tapi kiranya sedikit kata saja bisa tersampaikan ke relung hati mereka yang terdalam. 

Saya sayang mereka, tanpa pernah tahu cara untuk menyuarakannya lewat tulisan. Saya malu sendiri kalau berbicara mengenai mereka lewat tulisan ini🤣. Mohon ampun, kali ini saya berbicara lewat tulisan dulu, biar mau dibilang apa terserah, intinya rumah su tambah jauh ni, jadi ketemu juga pasti tambah jarang (malunya juga bisa tertutupi oleh jarak, 🤣🤣)
--------------------------

Sekadar Nostalgia 

Dulu kita pernah duduk bersama 
Bercerita tentang harap-harap indah bahagia 
Canda selalu terukir diantara kita 
Ada janji yang mengikat jiwa 

Dulu kita pernah mengukir kisah bersama 
Saat masih dengan atribut sekolah baik pada masa TKK, maupun SD
Pergi dan pulang selalu bersama 
Masih terekam dengan jelas, bagaimana tawa-tawa tulus kita tebar dengan menawan 
Seperti anak-anak pada masanya, berbahagia tanpa ada beban pikiran 
Entah apa yang akan kita lalui di ke esokkan harinya 

Saya rindu masa-masa dahulu, saat semua terasa sangat dekat dan gampang untuk saya dekap 
Saya rindu, pada masa-masa di saat saya merayakan ulang tahun dan melihat kajian sayang ikut merayakannya bersama
Saya rindu ketika zaman SD kita lopas pagi bersama 
Terbangun cepat di pagi pada hari Selasa dan Jumat, bergegas pergi ke gereja 
Pada masa-masa di mana saya yang masih malu-malu 

Malu pada saat saya hanya bisa duduk jongkok di pojok ruangan, sedang makan berjoget ria di acara ulang tahun saya sendiri 
Malu saat melakukan suntik pada waktu sehabis meneeima hasil lulus dari Taman Kanak-kanak
Malu pada saat pindah sekolah 
Malu pada kisah cinta monyet zaman Sd
Malu pada diri sendiri yang mengasingkan diri dari keramaian 

Ahh, saya rindu sekali...

Kita terlalu dekat untuk menjadi jauh seperti akhir-akhir ini 
Atau mungkin saja, saya yang kaku untuk kembali mengakrabkan diri seperti sedia kala 
Maaf untuk jarak yang sudah tercipta lebih dari 6 tahun ini 
Maaf untuk diri yang tidak pernah berkisah tentang kalian 

Saya terlalu kaku 
Semoga terus erat tali persaudaraannya 
Walau sekarang jarak yang dulunya jauh sudah semakin jauh karena rumah yang sudah berjauhan 
Lebih tepatnya saya yang sudah semakin jauh, lagi dan lagi:)

Salam Sayang untuk Kalian Semua 
Titip rindu dan peluk untuk Ema dan untun Bapa yang so lebih dulu kembali ke Pelukan Bapa di Surga ❤️🤗
-------------------

//TemanKecil 
//TPI,Amagarapati-Larantuka
//Masih kurang Metrin🥺😌

#GadisAksara_☕

Amagarapati, 17 Juni 2022



Rabu, 15 Juni 2022

Di mana Kita


Di mana Kita 

Aku mencari jawaban pada setiap tanda tanya 
Tentang kenapa kita yang sekarang begitu dingin dan kaku 

Aku sibuk menerka 
Tentang di mana kita, yang tak pernah lagi kutemukan pada rindu-rindu yang layu 
Tentang di mana aku, sebab di matamu sudah tak lagi kutemukan siapa diriku 

Aku tidak begitu suka keadaan ini, aku rasa kau juga begitu 
Kita tidak boleh berlama-lama seperti ini 
Terbiasa untuk saling diam, sungguh berbahaya 
Orang lain bisa datang kapan saja, menyerupaimu atau sebaliknya.

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia; tentang di maka kita yang dulu masih hangat diperbincangan tengah malam, membalut diri dari dinginnya malam dengan satu dua kata:]

Nb: sumber gambar ; Pinterest

Kutulis Tentangmu


Kutulis Tentangmu 

Kata demi kata mengalir tanpa henti menjadi untaian kalimat yang bermakna 
Bukan sebuah sanjungan untuk seseorang, 
hanya bukti tertulis yang mungkin nanti layak disajikan untuk khalayak 

Bukan hal penting dari yang terpenting, 
hanya untuk diketahui sebagai simbol 
keberadaan seseorang di hati seseorang 

Bukan mati dalam kenyataan
Bukan pula hidup hanya di mimpi 
Hanya sebuah mimpi dari jutaan impian yang belum saatnya menjadi nyata 

Bukan sesuatu yang baru, tidak lama 
Hanya ingin menyimpannya sebagai memori abadi di hati yang entah sampai kapan akan tetap berarti 

Bukan apa-apa
Tidak mengapa 
Aku hanya menyapa lewat kisahmu 
yang menjadi kisahku

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Larantuka, 15 Juni 2022; Anak Manusia,hanya sekadar menyapa lewat aksara sebab suara sudah tak mampu membuatmu tergerak:]

Sumber gambar; Pinterest 

Selasa, 07 Juni 2022

Mengenang Sekali Lagi (Lahir sekali saja:)


Mengenang Sekali Lagi (Lahir sekali saja) 

19 tahun sudah kutapaki bumi yang tak lagi muda 
Pertemuan-pertemuan bergulir tanpa jeda
Kadang kawan jadi lawan, lawan jadi kawan 
Pun kekasih, hanya berakhir pada lembar-lembar halaman 

Entah basa-basi apa yang disajikan bumi 
Mimpi mencekam, gemuruh pada jantung, ingatan lumpuh.
Aku dicoret habis-habisan oleh warna-warni kehidupan 

Lautan wacana yang kuabadikan dalam lipatan-lipatan kertas 
Perlahan sedikit demi sedikit mulai kucicipi 
Berawal dari sedikit sajak cinta dari ibunda
Hingga patah hati-patah hati yang melanda 

Ahhh sudah bertambah satu lagi usia ini 
Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, masih menjadi asing untuk diri sendiri 
Masih betah bertemakan sepi, merajut bait-bait sajak 
Yang entah kenapa kebanyakan berbau romansa sedih yang membuat pilu

Sudah semakin dewasa tapi diri masih menolak untuk melupa kalau usia sudah beranjak dewasa 
Entah akan bagaimana kelanjutan hidup di hari-hari yang akan datang
Entah lebih banyak airmata atau tawa bahagia 
Saya pun tidak tahu menahu soal itu 

Semua sudah ada di garis Takdir 
Semua sudah dalam skenario terbaik yang dibuat oleh sutradara terbaik milik kita semua 'Tuhan'

Tidak menginginkan banyak hal 
Hanya ingin dicintai lebih lama lagi 
Bahkan kalau boleh, hingga raga ini tertidur dengan lelap di balik papan kayu 
Dan jiwa akan tetap abadi bersenandung ria melantunkan syair-syair kemenangan atas kepulangan yang kekal 
_______________________

Terimakasih untuk yang telah dengan penuh cinta merawat hingga puisiku lahir menatap semesta yang bisu. Untuk Juni, untuk tahun 2003, entah jika tanpa kalian saya pun tdk tahu bisa lahir dan menatap bumi ini kapan. 

//SpecialBirthday✨
//19 Tahun berpeluk Do'a dalam dekapan semesta🌹😇🙏
----------------------------------------

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Larantuka, 07 Juni 2022; Anak Manusia, masih setia menjadi 'Perempuan Berkepala Puisi', walau umur mulai beranjak meningkat dan usia hidup mulai menyingkat:] 

Jumat, 03 Juni 2022

Waktu


Waktu 

Ada yang menari diantara detik waktu yang bergulir 

Entahkah, air mata, tawa bahagia, senyum tulus yang mempesona, kerinduan yang meraksasa, atau luka yang kian menganga 

Detik waktu tak pernah sendiri 
Selalu ada yang menari dan menemani
Setiap gerakannya 
Setiap dentang bunyinya 
Ada yang menari 

Di lain waktu 
Yang milikku mungkin berbeda denganmu 
Detik waktu terlahir bersama sepuhan warna 
Yang memoles ruang diantara waktu 
Yang menjadi warna kontras, senada, dalam hidupku atau hidupmu 

Detik waktu selalu patuh 
Ia tak akan pernah berhenti 
Ia berputar tanpa imbalan 
Ia hidup selamanya 
Ia dikenal semua manusia 
Ia ada dan menjadi legenda 

Di hidupku, di hidupmu 
Pada akhirnya 
Tetap akan ada sejarahnya 
Tentang detik waktu yang selalu punya cerita 
Salah satunya 
Cerita tentang kamu dalam hidupku 

//Pria Kuno dalam Sajak
#GadisAksara_☕

[Anak Manusia. Larantuk, 03 Juni 2022; Saya menyebutnya 'Takdir' Ada yang pernah diambil dari saya dan kemudian saya mendapatkan sesuatu itu kembali, dalam artian yang sama walau berbeda bentuk, dan itu di Bulan yang sama. Juni🌹:]

23👑🎂— Renungan & Refleksi 🌹🤎🦋

|•🦋•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru Hari ini aku berulang tahun ke-23.   Hari ini Gerej...