|•๐ฆ•| Catatan Perempuan
Aku diam. Pada ujung danau yang tenang, sebelum riak-riak serupa luka memecah hening. Mataku terpaku, biru-biru langit itu berhasil melahirkan candu. Atas perih-perih lukaku sebab kenyataaan, sebab hujan, dan usaha-usaha yang sia.
Bising kepak merpati dalam pulang itu membawa warasku kembali, tentang pijakku di bumi, tentang serak-serak permintaanku di kotak sudut lemari, tentang daun akasia yang jatuh sebab dayu-dayu angin yang merayu. Kau tahu bukan, ranahku adalah senyap pengap yang gelap. Bagaimana mungkin bertahan mampu kulakukan dalam kungkungan ketidakmungkinan, janji-janji yang 'tak membuatku kenyang, nyanyian penyemangat yang tidak melahirkan hangat.
Kekuranganku bukan tentang bagaimana kondisi ujung kepala hingga kaki. Melainkan perbandingan-perbandingan yang tumbuh rimbun dalam kepala, ketakutanku pada esok atau lusa yang enggan berkurang, hingga kebencian pada keadaan yang seolah tidak memihak kehadiranku. Ada mimpi yang ditulis dengan kalis, doa-doa manis yang kuterbangkan berhias tangis, tentang jauh tualangku yang semoga tidak terjegal sebab gelap obor di tangan, rapuh jari jemari kakiku, hingga penat kepalaku yang mungkin mampu merampas waras yang kujaga sekian lama.
Apalah artinya hiruk pikuk harapan yang berlalu-lalang dalam sukmaku bila tiada celah untuk terwujud? Ia hanya semakin bising, menjelma kota ramai penuh polusi yang ber-ibu kota di dalam dadaku. Sesak, acak, berserak.
Sampai kapan? Sampai kapan harapan tanpa perwujudan itu mengendap dan membusuk di dalam tubuhku? Sampai benteng ketegaranku yang sudah lapuk itu benar-benar roboh, ataukah sampai nyala obor di tanganku yang remang-remang itu benar-benar padam?
Ada banyak sekali kecamuk pertanyaan yang kemudian saling beradu di udara. Bertanya kepada siapa saja; riak danau, serak daun, kepak merpati. Lalu melambung tinggi, mengetuk nabastala, memohon jawab dari pemilik semesta.
Penerimaan, jawabannya. Satu-satunya hal yang menyelamatkan benteng ketegaranku dari kekecewaan yang membuatnya keropos perlahan-lahan. Satu-satunya hal yang menyelamatkan obor kepercayaanku dari embusan kata-kata buruk yang berupaya memadamkan. Satu-satunya hal yang menyelamatkan kewarasanku sebab sembuh dan utuh tak lagi mau melengkapi kekurangan.
Tetapi 'tak mudah untuk menerima ketika layar nyata itu menampilkan banyak manusia yang berbincang, tertawa keras mengejar lalu meraih apa saja dengan bebas. Tanpa perlu tersandung, tanpa perlu mencari pundak pelindung, hingga pegangan erat yang memabukkan.
Bertahan adalah pilihan terbaik agar hidupku tetap tersambung dan kewarasanku tak memilih pundung. Biar doa-doa manis itu menjadi pendamping pahitnya obat pertahanan yang harus kutelan meski tak nyaman. Biar harapan-harapan usangku yang telah membusuk tetap mengendap, lalu terurai dan menghilang dengan sendirinya.
Aku akan tetap tegak berusaha, memeluk erat segala kurang dan rapuhku. Memilin rapi tumpukan kusut dalam kepala, menaruhnya dengan lebih tertata. Pun aku akan tetap hidup dengan atau tanpa mimpi-mimpi yang terpenuhi. Karena akan lebih cukup bagiku untuk hidup di bumi, hanya dengan menjadi diriku yang rapuh dan selalu ingin utuh. Akan lebih menyenangkan untuk tetap berjalan mengarungi kenyataan bahwa kesendirian akan tetap hinggap, tetapi aku akan selalu memiliki diriku, bukan? Seseorang yang tidak akan pernah pergi atas apapun yang terjadi, setelah Tuhan di sisiku.
•gn<3va๐️; dalam usaha menerima diri sendiri.
Agustus, 2023