Jumat, 10 Oktober 2025

~Sang Terang~

Ilustrasi oleh: Piper Colton, Fallen Angel
|•🦋•| Catatan Perempuan; Prosa liris kontemplatif 

~Sang Terang~

Demi cahaya yang menyingsing di waktu fajar. 

Sesungguhnya telah muncul seseorang di antara kalian yang bangkit setiap subuh untuk menyucikan wajah, tangan, dan kakinya. Dan ia menyangka bahwa (cahaya) itu terpancar dari dirinya sendiri. 

Ia lantunkan nama-Nya dengan suara yang lembut dan bibir yang gemetar. Namun tidaklah sekali-kali suara itu sampai ke hatinya.

Sebab hatinya telah dikuasai rasa sombong dan kedengkian. Sesungguhnya ia adalah orang-orang yang telah melampui batas, yang mempermainkan ayat-ayat-Nya untuk menghukum sesama manusia.

Tidakkah ia ketahui bahwa Tuhan adalah hakim yang seadil-adilnya?

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Berilah tumpangan bagi yang pincang jalannya,” ia berpaling dan berkata: “Sesungguhnya mereka telah menyimpang dari jalan yang lurus.”

Ia menghafal firman-firman sebagaimana ia menghafal nama-nama orang yang dibencinya. Tetapi ia tidak mengenal ratapan yang keluar dari bilik sebelah, dan tidak pula ia menoleh kepada mereka yang kelaparan di sekitarnya.

Maka jadilah amalannya serupa suara yang menggema di gua-gua kosong; sebuah kesia-siaan seperti debu yang beterbangan.

Dan tatkala ia menyebut nama Tuhan, ia melakukannya dengan tekun, siang dan malam, tetapi semua kebaikan hanya mengering dalam mulutnya.

Sementara yang tersisa padanya hanyalah liur pahit yang ia ludahkan kepada siapa pun yang tidak bersujud sebagaimana ia bersujud.

Ia menjulangkan doa-doanya tinggi ke langit, tetapi ia kosongkan tempat duduk bagi yang berbeda darinya. Tidaklah ia beri ruang bagi keraguan untuk mendekat, dan tidak pula ia beri selimut bagi yang bertanya.

Dan ia berkata: “Aku pembela kebenaran,” tetapi sesungguhnya ia hanya menutup pintu rahmat bagi banyak jiwa dengan tangan yang terkepal.

Dan apabila ia melihat cinta yang tak sesuai dengan takwilannya, ia berkata: “Itulah penyakit yang wajib dimusnahkan.”

Maka kecelakaanlah bagi mereka yang menjadikan dalil-dalil Tuhan sebagai senjata untuk memerangi sesamanya. Padahal sesungguhnya Tuhan Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.

Ia berkata: “Aku adalah tangan Tuhan,” padahal tangannya mengepal, bukan merangkul.

Ia berkata: “Aku adalah suara Tuhan,” padahal suaranya menghardik, bukan menentramkan.

Dan ia berkata: “Akulah cahaya.”

Tidak kah ia mengetahui, bahwa tidak semua yang bersinar adalah petunjuk; jalan yang terang.

Dan tahukan kalian cahaya yang memancar itu? (Yaitu) api yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.

• • • 
#GadisAksara_☕

Oktober, 2025 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

23👑🎂— Renungan & Refleksi 🌹🤎🦋

|•🦋•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru Hari ini aku berulang tahun ke-23.   Hari ini Gerej...