Sabtu, 30 April 2022

PENGHUJUNG APRIL


Sudah tanggal 30 penghujung bulan, untuk yang ke 12 kalinya.  Mungkin setelah hari ini, eyang Sapardi harus tahu bahwa ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni itu. Rindu yang setiap hari mengusahakan merelakanmu. 

Setiap hari adalah langkah-langkahku menghapus jejak pernah. Bagaimana menolak maunya hati yang masih saja kamu sebagai tujuannya. Masih saja mencari di lipatan buku atau dibalik fajar mencari sisa-sisa tentang kita. 

Aku mencintaimu, jika ada kata yang lebih baik dari itu sebagai penjara, aku ingin berpindah saja, sebab rela dan merelakan hal yang terlalu rumit. 

Tidak, ini bukan luka. Aku hanya sedang menyesali lalu, sebab sepertinya bahagiamu belum sepenuhnya aku usahakan. Sedang kamu sudah memberiku banyak, sampai aku tak menemukan nyenyak meski ribuan mili jarak.

Bukan perihal dekat antar tubuh, tetapi hatiku yang sudah tak utuh. Simbah relung sebab isak yang tak kunjung sudah, aku menyesali perpisahan bukan karena kamu lagi, meski sejujurnya itu juga bagian. Penyesalan. Kita memilih hilang dan punah, daripada datang dan pergi. 

Penyesalahnku tentang perasaan-perasaan penyalahan sebelumnya, bahwa itu adalah penyembuh paling ampuh padahal semu. Seola itu satu-satunya cara menolak sakit menjalar terlalu dalam. Sedang sebenarnya diri memilih di peluk kelam. 

//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕

[Bumi, 30 April 2022]

Kamis, 28 April 2022

PUISI

Setiap barisnya...

Diksi indahnya 

Semua tertata rapi di sana 

Menuju akhir yang berjuluk Rima 

Lalu terangkai larik berbanjar-banjar


Setiap kita adalah puisi 

Hanya saja ada beberapa yang tak menyadari 

Kitalah diksi indah sang perangkai baris 

Meski kadang kala banyak majas tak bisa dipahami 


Ada yang berperan dalam puisi sedih 

Puisi sedih yang benar-benar indah 

Tapi banyak yang hanya terlarut dalam kesedihannya 

Tanpa memaknai letak keindahannya 


Setiap kita adalah puisi

Bisa menjadi candu bagi siapapun 

Hanya saja tak setiap candu mampu menampakkan diri 

Lalu bukan berarti kita tak indah, kan? 


Ada yang berperan dalam puisi bahagia 

Puisi bahagia yang terlalu menyenangkan 

Hingga ingin menangis terlampau haru 

Tapi banyak yang hanya terlarut dalam kebahagiaannya 

Lalu mengabaikan tujuan puisi sejatinya 


Perangkai puisi tidak bodoh 

Ia menulis ratusan puisinya

Balada, ode, satire, romansa, dan berbagai halnya 

Lantas kita ditulis sebagai Balada? 

Haruskah kita menuntut untuk menjadikannya puisi romansa? 


Tidak! 

Karena setiap kita adalah puisi  

Setiap diksi...

Baris yang tertulis...

Larik yang dirangkai...

Pantas disebut candu hakikinya 


//Selamat Hari Puisi Nasional

//Selamat Hari Chairil Anwar 

#GadisAksara_☕


[Aku puisi sedih yang terlampau menggembirakan, bagaimana dengan kalian?;]


Kota Kasih, 28 April 2022


Selasa, 26 April 2022

Kenang Saja Aku Pada Puisi-Mu

Aku menulis tentangmu 

Seharusnya kamu yang paling tahu mana kamu diantara puisi-puisku 


Kata-kata, sia-sia 

Tak satu hurufpun menyentuhmu 

Aku pilu tak dibaca 


Kupikir sukacitaku kamu

Tapi luka seiring langkahmu dan aku mengejarmu.

Seharusnya aku dengar kata ibu ; jangan mari sambil menutup mata, akan mudah aku terjatuh. Hati salah arah


Aku tak bisa membacamu

Kata-katamu berjuta makna,

Aku yang mana? 

Seharusnya kudengar kata ayah ; jangan jatuh cinta pada pujangga, akan mudah aku terluka. Hati salah kira 


Aku berlarian ke arahmu 

Kau tak ingin kutuju 

Aku cinta puisimu, walau bukan aku isi tulisanmu. Aku bisa apa? 

Menghasut ibu agar memaharahimu?

Atau ke pusara ayah untuk mengadu?

Aku menangis di puisiku


Tidurlah semalam saja di puisi ini, rasakan cinta pada detak spasi. Tepat di titik akhir puisi ini nanti, kamu akan terbangun dari tidurmu berbenah dari meja di kamarku, beranjak dari buku kumpulan puisiku setelah itu kamu boleh pergi. 

Menetaplah di puisi yang kamu tulisi

Jangan pernah kembali pada puisiku 

Tanganku terlalu pedih menulismu, dan setelah puisi ini, kuakhiri harapanku. 


//Pria Kuno dalam Sajak🍂

#GadisAksara_☕


Bumi Manusia, April 2022


Minggu, 24 April 2022


Pada halaman kesekian namamu selalu menjadi objek tulisan. Aku pasti mati, tapi puisiku bersamamu abadi. 

Matamu ; lebih sepi dari kota-kota mati yang pernah kujelajahi 

Namamu ; cerita indah yang pernah kusudahi 


Ahh basi

Begitu yang kutulis kala itu

Ketika kau pamit tanpa permisi 

Maka puisi adalah obat patah hati yang paling kunikmati. 


//Pria Kuno dalam Sajak🍂

#GadisAksara_☕


Kota Kasih, 23 April 2022


UNDANGAN

Daftar bintang tanggal pada halaman bukuku telah penuh 

Entah, ini kali ke berapa aku mengundangmu pada puisiku 

Kelihatannya samar siapa tokoh utama di sana 

Tapi malam ini kaulah alamat yang kutuju 

Meski bebal hati ini mengakui itu 

Jika kau satu-satunya yang menjebakku pada mimpiku sendiri 


Aku telah menyiapkanmu hidangan foto-foto lama dalam galeri 

Hanya sekadar bernostalgia, siapa tahu kau lupa. 

Jika aku pernah mengusap rintik pada bola matamu 


Aku juga telah membuatkanmu secangkir tawa hangat 

Agar kau bisa menikmati  perayaan malam ini 

Berdansa dengan gulita diiringi lagu keabadian 

Sungguh pun begitu aku telah terbiasa dengan kepalsuan 


Ohh iya, 

Sekarang hampir pukul 00.

Silakan kembali! 

Bungkus saja kenangan itu dan bawa pulang

Selamat menikmati! 

Maaf pestanya terlalu singkat. 


//Pria Kuno dalam Sajak🍂

#GadisAksara_☕


Kota Kasih, 24 April 2022


Jumat, 22 April 2022

SELAMAT HARI BUMI

Kita mengeluh bagaimana matahari membakar kulit kita, namun tidak pernah mengingat bagaimana kita membakar para akar jantung dunia.

Seenak jidat, bahkan hanya menyalahkan dunia. Kita saling menunjuk, tanpa melihat berapa jari mengarah pada kita. 

Bumi kita buat menangis, kita pisahkan juga akar-akar dari tempat tidur tanah mereka. Membuang sampah sembarangan, namun saat diingat malah menunjukkan wajah merah padam. 

Bumi berdarah, tapi kita hanya terus menorehkan luka tanpa membalutnya. 

Kian hari kian berdarah, mungkin karena itu matahari kian membakar tulang belulang kita. Mungkin semua itu sebagai pengingat ; bahwa kita terlalu banyak merusak bumi. 

Bumi manusia ini sudah penuh, bahkan menjadi ladang bertumpahnya darah dan air mata. 

Bumi menjadi lahan menampung keladi. 

Tak berdosa namun menanggung derita. 


[Selamat Hari Bumi ; Sudahkah kita sadar dengan apa yang kita perbuat!?. Sudahkah kita menjaga Ibu Kita ini!?. Untuk itu, mari kita menjaga Ibu kita dan memulainya dari tindakan-tindakan kecil:] 


//GadisAksara_☕

Bumi, 22 April 2022





Kamis, 21 April 2022

AKSARA UNTUK KARTINI

AKSARA UNTUK KARTINI

Nama itu masih mewangi 

Meski zaman telah berganti 

Harum di persada Pertiwi

Semerbak ke penjuru bumi 


Dialah Raden Ajeng Kartini 

Sang Putri Patriot sejati 

Penyuluh cita-cita mulia

Pejuang emansipasi wanita 


Tak peduli jiwa yang rapuh 

Ia tetap mengayuh tanpa mengaduh 

Hingga kehendak menjadi cita 

Agar perempuan tetap menjadi manusia 


Kodrat tetaplah kodrat 

Namun jiwa tak bisa dikekang 


Kutulis aksara cinta ini untukmu, wahai Ibu Kartini 

Jiwa-jiwa wanita bangsa terasa mandiri saat ini 

Kau hidup dalam impian-impian kami 

Kau tumbuh di dalam sanubari 


Hak-hak wanita yang dibatasi 

Kau perjuangkan sampai mati 

Hingga mereka dapat menempuh pendidikan tinggi 

Tanpa harus terkekang oleh tradisi 


Wahai, Ibu Kartini

Sang Putri Kesatria 

Namamu abadi sepanjang masa 

Meski kini ragamu telah tiada 


"Habis Gelap Terbitlah Terang,

Itulah kata yang terkenang."


[Kartini Day. Untuk segenap Kaum Perempuan di Bumi Nusantara ; Mari kita merayakan kemenangan untuk Kemerdekaan dari Penjajahan atas hak-hak yang sepantasnya diperjuangkan.] 


Selamat Hari Kartini, untuk semua Perempuan-perempuan Hebat✊🌹


//GadiaAksara_☕/

/Genoveva Matutina 


Kupang, 21 April 2022 


Senin, 18 April 2022

Rindu Yang Tak Pernah Sampai

Kusentuh wajahmu melalui doa-doa malamku

Kutitipkan rindu melalui redupan bintang 

Sesering kali rindu seperti kunang-kunang yang setia dalam keheningan malam 

Yang masih duduk manis dibalik tanaman tanpa dekapan

Menggigil beku dan bisu 

Seolah rindu tak pernah sampai padamu 


Maka, ketika pagi menyapaku melalui mendung 

Aku masih tetap menyimpan doa-doa malamku dalam setiap rintiknya 

Tak ku hiraukan berapa banyak rintikan itu jatuh dan mengalir 

Namun tak sampai padamu 


Ketika malam kembali menyapaku melalui redupan bintang 

Kutitipkan lagi rindu dan masih saja kunang-kunang menanti dibalik celah tanaman yang menggigil beku dan bisu 

Dan masih saja rindu itu dalam sunyi yang tak pernah sampai padamu. 


//Pria Kuno dalam Sajak 🍂

#GadisAksara_☕


Penfui, 18 April 2022


23👑🎂— Renungan & Refleksi 🌹🤎🦋

|•🦋•| Catatan Perempuan; Renungan dan Refleksi Panjang untuk Usia yang Baru Hari ini aku berulang tahun ke-23.   Hari ini Gerej...