Mengenang Sekali Lagi (Lahir sekali saja)
19 tahun sudah kutapaki bumi yang tak lagi muda
Pertemuan-pertemuan bergulir tanpa jeda
Kadang kawan jadi lawan, lawan jadi kawan
Pun kekasih, hanya berakhir pada lembar-lembar halaman
Entah basa-basi apa yang disajikan bumi
Mimpi mencekam, gemuruh pada jantung, ingatan lumpuh.
Aku dicoret habis-habisan oleh warna-warni kehidupan
Lautan wacana yang kuabadikan dalam lipatan-lipatan kertas
Perlahan sedikit demi sedikit mulai kucicipi
Berawal dari sedikit sajak cinta dari ibunda
Hingga patah hati-patah hati yang melanda
Ahhh sudah bertambah satu lagi usia ini
Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, masih menjadi asing untuk diri sendiri
Masih betah bertemakan sepi, merajut bait-bait sajak
Yang entah kenapa kebanyakan berbau romansa sedih yang membuat pilu
Sudah semakin dewasa tapi diri masih menolak untuk melupa kalau usia sudah beranjak dewasa
Entah akan bagaimana kelanjutan hidup di hari-hari yang akan datang
Entah lebih banyak airmata atau tawa bahagia
Saya pun tidak tahu menahu soal itu
Semua sudah ada di garis Takdir
Semua sudah dalam skenario terbaik yang dibuat oleh sutradara terbaik milik kita semua 'Tuhan'
Tidak menginginkan banyak hal
Hanya ingin dicintai lebih lama lagi
Bahkan kalau boleh, hingga raga ini tertidur dengan lelap di balik papan kayu
Dan jiwa akan tetap abadi bersenandung ria melantunkan syair-syair kemenangan atas kepulangan yang kekal
_______________________
Terimakasih untuk yang telah dengan penuh cinta merawat hingga puisiku lahir menatap semesta yang bisu. Untuk Juni, untuk tahun 2003, entah jika tanpa kalian saya pun tdk tahu bisa lahir dan menatap bumi ini kapan.
//SpecialBirthday✨
//19 Tahun berpeluk Do'a dalam dekapan semesta🌹😇🙏
----------------------------------------
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
[Larantuka, 07 Juni 2022; Anak Manusia, masih setia menjadi 'Perempuan Berkepala Puisi', walau umur mulai beranjak meningkat dan usia hidup mulai menyingkat:]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar