|•🦋•| Catatan Perempuan: Perempuan, Katanya, Ahli Puisinya Sendiri
Musim panen telah tiba: yang keriput dan menua, yang retak dan menggersang, yang abadi dan tak kenal waktu. Pengabdi kemudian menurut mata angin: yang biru dan berduka, yang nahas dan nihil, yang menjadi rahasia.
Kemudian turun sebuah sabda. Di ladang kata tanpa titik-koma dan para perempuan turut serta, berduyun-duyun dengan kesedihan di kepala. Selebihnya berdiang di serambi rumah, berlomba menenun dan menjahit luka menganga di dada.
Perempuan-perempuan di ladang selesai mengolah setumpuk puisi, gegas menata di tubuh angin, yang tanpa permisi dan tanpa kembali. Kabarnya, ia tukang titip di bilik hati, di mulut-mulut lelaki, di kepala-kepala bayi. Demikianlah ia mengetahui sedikit banyak rahasia kata yang tak terucap lidah dan berujung menjadi air mata. Ia menyaksikan banyak yang tak disaksikan siapa-siapa, seperti gelapnya pencuri berita. Dan angin juga kehilangan perangai. Sebagaimana ia diciptakan untuk memegang janji.
Dan musim-musim paceklik: jatuh mengganggu lumbung-lumbung persediaan kata hingga para perempuan mengeluhkan puisi untuk dimakan. Kepalanya sedang kering kerontang, sementara dadanya beristirahat sebelum hari-hari perang. Sesekali kekeringan semacam ini bertandang dan menghentikan perempuan-perempuan menyiasati kesedihannya yang paling dalam. Paling lama sampai panen puisi berikutnya datang.
• • •
#GadisAksara_☕
Kupang, Desember hari ketiga 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar