Sudah tanggal 30 penghujung bulan, untuk yang ke 12 kalinya. Mungkin setelah hari ini, eyang Sapardi harus tahu bahwa ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni itu. Rindu yang setiap hari mengusahakan merelakanmu.
Setiap hari adalah langkah-langkahku menghapus jejak pernah. Bagaimana menolak maunya hati yang masih saja kamu sebagai tujuannya. Masih saja mencari di lipatan buku atau dibalik fajar mencari sisa-sisa tentang kita.
Aku mencintaimu, jika ada kata yang lebih baik dari itu sebagai penjara, aku ingin berpindah saja, sebab rela dan merelakan hal yang terlalu rumit.
Tidak, ini bukan luka. Aku hanya sedang menyesali lalu, sebab sepertinya bahagiamu belum sepenuhnya aku usahakan. Sedang kamu sudah memberiku banyak, sampai aku tak menemukan nyenyak meski ribuan mili jarak.
Bukan perihal dekat antar tubuh, tetapi hatiku yang sudah tak utuh. Simbah relung sebab isak yang tak kunjung sudah, aku menyesali perpisahan bukan karena kamu lagi, meski sejujurnya itu juga bagian. Penyesalan. Kita memilih hilang dan punah, daripada datang dan pergi.
Penyesalahnku tentang perasaan-perasaan penyalahan sebelumnya, bahwa itu adalah penyembuh paling ampuh padahal semu. Seola itu satu-satunya cara menolak sakit menjalar terlalu dalam. Sedang sebenarnya diri memilih di peluk kelam.
//Pria Kuno dalam Sajak🍂
#GadisAksara_☕
[Bumi, 30 April 2022]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar